Sekilas Catatan Pelestarian Chandi Borobudur


Borobudur merupakan tempat suci umat Budha, sebagai situs cagar budaya peninggalan Wangsa Sailendra yang berkuasa di Jawa abad ke-8 Masehi. Kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur telah mengantarkan candi ini sebagai situs warisan budaya, yang memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia.

Pemerintah menetapkan Borobudur dan kawasannya sebagai cagar budaya yang memiliki daya tarik wisata dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi banyak pengunjung nusantara maupun mancanegara. Borobudur menarik antusiasme luar biasa untuk berwisata mengenal bangunan ini, sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi dalam melestarikan warisan budaya leluhur. 

Berwisata mengenal Borobudur dan kawasannya, dalam mendalami sejarah dan arsitektur seni rupa bangunan ini dengan menggunakan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang dikenakan ketika mengunjungi teras-teras Borobudur melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Rehabilitasi Borobudur
Pembersihan dan pemasangan drenase pipa air. Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Pelestarian Warisan Budaya


Candi Borobudur adalah bangunan suci yang dibangun pada abad ke-9 oleh dinasti Sailendra di Jawa. Candi ini merupakan contoh megah dari seni arsitektur kuno. Struktur bangunan terdiri dari 10 tingkat, yang terdiri dari teras persegi dan melingkar, serta dihiasi dengan stupa di puncaknya. Setiap tingkat dihiasi dengan relief dinding yang menceritakan kisah tentang ajaran Buddha dan kehidupan pada masa itu. Relief-relief ini sangat detail dan diukir dengan indah serta teliti, mencerminkan kemurnian seni yang tinggi.

Selain arsitektur dan seni, Borobudur juga memiliki signifikansi sejarah yang penting. Sebagai pusat budaya dan pemahaman Buddha di Jawa Tengah, Borobudur dibangun selama kurang lebih 75 tahun, melibatkan ribuan pekerja. Menggunakan batu andesit yang sangat berat, konstruksi Borobudur menunjukkan kehebatan arsitektur Jawa pada masa itu.

Candi Borobudur memiliki salah satu kekayaan seni ukiran batu yang indah, dibuat dengan sangat teliti dan halus. Dengan banyaknya relief yang diukir dengan detail, Candi Borobudur telah menginspirasi tentang kepiawaian cara membuat ukiran batu yang indah dan berkualitas tinggi. Lebih jauh lagi, Candi Borobudur juga menawarkan wawasan lebih dalam tentang melestarikan dan melindungi cagar budaya, sebagai situs warisan budaya dunia yang membanggakan.

Ada beberapa cara untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya. Ini dimulai dengan memperkenalkan dan meningkatkan kesadaran akan makna penting warisan budaya melalui pendidikan kepada masyarakat. Upaya pelestarian ini dapat dicapai melalui seminar atau festival budaya. Keterlibatan aktif masyarakat dalam merawat benda-benda kuno juga merupakan cara untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur. Memberikan pemahaman yang bermakna dan mendidik generasi muda merupakan langkah penting dalam pelestarian budaya. Dengan cara ini, warisan budaya dapat tetap hidup dan dilestarikan untuk generasi yang akan datang.

Penelitian tentang struktur Candi Borobudur telah dilakukan oleh para arkeolog dan sejarawan di Indonesia dan di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari sejarah, bahan yang digunakan, teknik konstruksi, tata letak, dan fungsi selama pembangunan bangunan ini. Pemeliharaan dan pelestarian Candi Borobudur sebagai warisan budaya dapat dicapai dengan berbagai cara, salah satunya melalui pemeliharaan fisik. Candi Borobudur harus dirawat secara fisik agar tetap dalam kondisi baik dan berkelanjutan. Pemeliharaan rutin, seperti pembersihan dan perbaikan, diperlukan.

Sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, Borobudur adalah salah satu candi Buddha terbesar dan terindah di dunia. Para ahli menggunakan beberapa metode penelitian, termasuk survei, penggalian, analisis material, dan pengamatan visual terhadap struktur bangunan. Melalui temuan-temuan ini, kita dapat memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang sejarah dan keindahan Candi Borobudur.

Saat ini, Borobudur adalah salah satu objek wisata paling populer di Indonesia dan dikenal di seluruh dunia. Dengan mengagumi keindahan dan sejarahnya, wisatawan dapat belajar banyak tentang budaya dan sejarah Indonesia selama kunjungan mereka.

Selamat Datang di Borobudur
Candi Budha Mahayana, dibangun tahun 824 Masehi masa kejayaan wangsa Syailendra. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Upaya Pelestarian Borobudur


Candi Borobudur adalah situs warisan budaya bersejarah, sebuah bangunan suci dengan makna filosofis yang mendalam bagi umat Buddha. Menurut sejarah awal Borobudur, seperti yang disebutkan dalam prasasti Karang Tengah dan Sri Kahulunan, candi ini dibangun oleh Raja Samaratungga pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra, yang memerintah sekitar tahun 782 hingga 812 Masehi.

Sebagai situs warisan budaya yang berada di Indonesia, Borobudur adalah bangunan candi terbesar dan tempat suci bagi umat Buddha. Bangunan ini melambangkan harmoni antara budaya Hindu dan Buddha yang ada pada masa itu. Bangunan suci ini merupakan salah satu manifestasi warisan budaya dalam desain bangunan bertingkat. Terdiri dari 10 tingkat dengan puncak berbentuk lonceng. Stupa utama terletak di tengah, yang dikelilingi oleh deretan stupa berlubang di tiga tingkat atas, dengan total 72 stupa, masing-masing berisi patung Buddha. Dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 patung Buddha.

Arsitektur yang ditampilkan Borobudur sangat megah dan indah, dengan tiga platform utamanya. Relief-relief yang rumit menggambarkan ajaran Buddha, kehidupan sehari-hari, dan mitologi Hindu-Buddha. Keindahan situs ini semakin diperindah saat matahari terbit atau terbenam, menciptakan suasana magis dan mempesona.

Mengingat lokasinya di puncak bukit di dataran yang dikelilingi oleh beberapa gunung dan bukit, Candi Borobudur secara alami rentan terhadap letusan. Di sebelah barat bangunan terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing, yang memisahkan candi Hindu dan Buddha, sedangkan di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi yang masih aktif. Di sebelah utara terletak Bukit Tidar, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Pegunungan Menoreh, dan terletak dekat pertemuan dua sungai, Progo dan Elo.

Secara historis, akibat letusan gunung berapi besar, Candi Borobudur tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah dan terkubur di lereng bukit seiring melemahnya pengaruh kerajaan Hindu dan Buddha di Jawa, dan masuknya Islam. Bangunan suci ini terbengkalai selama beberapa abad, kemudian akhirnya menjadi kenangan global setelah ditemukan pada tahun 1814 oleh Thomas Stamford Raffles, yang pernah menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa.

Candi Borobudur telah terdaftar sebagai warisan budaya dunia, situs bersejarah ini bukanlah hanya sekedar status, akan tetapi keberadaannya lebih jauh membawa konsekuensi dalam pengelolaan yang lebih baik dimasa depan. Menyandang status sebagai warisan dunia menjadikan kelestarian Borobudur menjadi perhatian seluruh dunia. Salah satu upaya untuk pelestarian adalah dengan konservasi.

Lokasi Candi Borobudur yang berada di alam terbuka dan berdiri di atas bukit sangat rentan terpengaruh oleh faktor lingkungan sekitar. Cuaca dan iklim merupakan faktor alam yang dominan berpengaruh dan dapat menyebabkan kerusakan dan pelapukan terhadap batuan candi. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi keberadaan dan kelestarian Candi Borobudur. Selain faktor alam, faktor pengunjung dan pemanfaatan lainnya juga dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan candi dan lingkungan sekitarnya. Apabila terjadi kerusakan pada bangunan cagar budaya tentunya sudah tidak akan pernah bisa diperbaharui lagi dan tidak bisa kembali seperti semula atau tidak bisa tergantikan.

Pelestarian Candi Borobudur dilakukan melalui berbagai cara, meliputi konservasi bangunan, pengelolaan pengunjung, peningkatan kesadaran masyarakat, dan pengawasan ketat. Konservasi secara rutin, termasuk pembersihan dan perbaikan, sangat penting untuk menjaga keutuhan struktur Candi Borobudur. Selain itu, pengelolaan terhadap pengunjung yang bijaksana, edukasi tentang nilai sejarah dan kebudayaan, serta pengawasan ketat terhadap perilaku pengunjung juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian bangunan ini.

Candi Borobudur telah mengalami beberapa kali upaya penyelamatan dan pemugaran untuk mengembalikan kejayaan dan kemegahan masa lalu. Konservasi bangunan Candi Borobudur telah dimulai sejak ditemukannya candi ini dengan berbagai kegiatan seperti pembersihan dan selanjutnya dengan dilakukannya pemugaran. Hal ini pernah dilakukan oleh Pemerintah Hindia-Belanda, pada tahun 1907 hingga 1911. Pemugaran Borobudur yang pertama dipimpin oleh Theodore van Erp, dan dilaksanakan sekitar 5 tahun. Upaya penyelamatan Candi Borobudur yang terbesar melalui pemugaran kedua dilaksanakan pada kurun waktu tahun 1973-1983, melalui kerja sama antara Pemerintah Republik Indonesia dengan UNESCO, sehingga situs bersejarah ini masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia (Unesco World Heritage) sejak tahun 1991.

Candi Borobudur
Setelah  pemugaran Van Erp, 
pemugaran bagian puncak, tiga teras melingkar dan stupa terbesar. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.


Rehabilitasi Borobudur Setelah Pemugaran

Pemeliharaan dan perlindungan Candi Borobudur sebagai destinasi wisata tunggal di Indonesia dilakukan oleh Pusat Kajian Konservasi, saat ini konservasi bangunan suci, dilakukan oleh Balai Konservasi Borobudur (BKB) yang meliputi beberapa hal, antara lain penanganan bencana alam akibat letusan gunung berapi, yang terdekat adalah Gunung Merapi. Gunung paling aktif di Pulau Jawa.

Sebagai bangunan keagamaan Budha yang terbesar, dan tersusun dari 55.000 meter kubik batu dengan kondisi batuan dan tanah perbukitan yang tidak stabil, maka candi Borobudur perlu dijaga dan dilindungi. Perlindungan dari runtuhnya batu bangunan candi, tanah perbukitan yang labil sehingga menyebabkan tanah longsor, ancaman tanaman lumut dan kerak batuan menjadi perhatian serius.

Selama beberapa dekade terakhir, pasca pemugaran Candi Borobudur yang dilaksanakan atas kerjasama oleh pemerintah Indonesia dan UNESCO, upaya konservasi dan pelestarian Borobudur dilakukan oleh Pusat Studi Konservasi yang ada di Indonesia dan juga melibatkan dunia, yaitu UNESCO. Pusat Studi Konservasi tersebut telah menjadi Balai Konservasi Borobudur (BKB) saat ini.

Secara keseluruhan, UNESCO telah mengkaji dan mengidentifikasi secara serius berbagai hal terkait pelestarian Borobudur, yakni tiga permasalahan penting dalam upaya konservasi Borobudur. Tiga hal tersebut disebutkan, antara lain hal-hal seperti vandalisme atau pengrusakan yang dilakukan oleh pengunjung, kondisi tanah yang tidak stabil sehingga menyebabkan erosi tanah di bagian tenggara situs, serta analisis dan restorasi bagian-bagian yang hilang.

Tanah liat yang terkena curah hujan tinggi menjadi gembur, akibat beberapa kali gempa, dan curah hujan dapat mengguncang struktur bangunan ini. Gempa bumi akibat letusan gunung berapi menjadi faktor yang dampaknya paling parah, karena tidak hanya bebatuan yang dapat berjatuhan dan gerbang lengkung yang runtuh, tanah juga bergerak dan bergelombang sehingga dapat merusak struktur bangunan.

Tradisi budaya yang terkait dengan masyarakat Jawa yang bertujuan untuk mendapatkan keberuntungan dengan menyentuh batu di Borobudur, telah meningkatkan popularitas salah satu stupa di tingkat atas yang berbentuk lingkaran, dengan tradisi menyentuh patung Budha di dalamnya menarik banyak pengunjung, kebanyakan dari mereka adalah untuk keberuntungan. Papan pengumuman tentang apa yang harus dilakukan saat berkunjung dan berada di dalam bangunan. Borobudur sudah tertulis di beberapa teras, banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, peringatan dibunyikan lewat pengeras suara dan ada penjaga, hal-hal yang berhubungan dengan vandalisme seperti perusakan dan coretan relief dan patung masih banyak terjadi, ini jelas dapat merusak bangunan situs bersejarah ini.

Pada tanggal 27 Mei 2006, gempa berkekuatan 6,2 skala Richter mengguncang pesisir selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini telah menghancurkan beberapa wilayah di bagian selatan dengan korban terbanyak di Yogyakarta, bencana ini tidak terlalu berdampak pada Candi Borobudur. Pada tanggal 28 Agustus 2006, diadakan simposium bertajuk Jejak Peradaban di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan. Hadir dalam acara tersebut perwakilan UNESCO dan negara-negara mayoritas Budha di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam dan Kamboja.

Candi Borobudur terkena dampak parah akibat letusan Gunung Merapi pada tahun 2010, abu vulkanik menutupi bangunan dan mencapai ketebalan sekitar 25 sentimeter (10 in) menutupi bangunan candi pada saat letusan tanggal 3–5 November 2010. Debu vulkanik juga merusak dan membunuh tanaman di dekatnya, dan para ahli khawatir abu vulkanik secara kimiawi bersifat asam, sehingga dapat merusak bebatuan bangunan bersejarah ini. Kompleks candi ditutup dari tanggal 5 hingga 9 November 2010 untuk menghilangkan lapisan debu.

Pembersihan candi dari endapan abu vulkanik akan memakan waktu kurang lebih 6 bulan, kemudian melakukan penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem air dan drainase yang tersumbat campuran abu vulkanik bercampur air hujan. Pemugaran berakhir pada November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.

Stupa-stupa teras Arupadhatu
Stupa utama berada ditengah, dikelilingi oleh deretan 72 stupa berlubang dan di dalamnya terdapat arca Budha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Membaca lebih banyak tentang Borobudur dalam beberapa judul dan jadikan wisata Anda menyenangkan dan menarik. Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam judul Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Chandi Borobudur
Borobudur terdiri atas enam teras bujur sangkar diatasnya tiga pelataran melingkar, dindingnya dihiasi oleh 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide. 

Comments