Seni Ukir Borobudur, Nilai Estetika Yang Anggun dan Elok


Kemegahan dan keindahan Borobudur sebagai destinasi wisata utama menjadikan bangunan ini sebagai situs warisan budaya dunia yang memiliki makna sejarah yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Bangunan ini merupakan salah satu tempat ziarah agama Budha, situs cagar budaya peninggalan Wangsa Sailendra di Jawa, yang berasal dari abad ke-8 Masehi.

Mengenal Borobudur dan sekitarnya, mendalami narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa akan memberikan suatu pemahaman yang bermakna untuk mengetahui lebih jauh tentang bangunan ini. Pemerintah telah menetapkan Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki daya tarik wisata dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Candi Borobudur dan kawasannya menarik antusiasme yang luar biasa untuk mempelajari keberadaan bangunan ini, sebagai bagian dari apresiasi dan partisipasi dalam melestarikan warisan budaya leluhur. Jelajahi literatur sejarah secara singkat bangunan ini pada masa lalu, mulailah perjalanan yang menyenangkan untuk mendalami kebudayaan leluhur dan mempelajari keindahan Borobudur dengan ukiran yang elok terpahat pada dinding dan langkan bangunan ini.

Dinding relief cerita Borobudur
Relief cerita dan galeri dinding berukir pada dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Seni Ukir Borobudur


Ukiran - ukiran yang terpahat pada dinding dan langkan di Candi Borobudur, merupakan gambar - gambar ilustrasi suatu relief cerita dan juga pola dekoratif yang memiliki gaya naturalistik dengan proporsi yang ideal dan serta cita rasa estetika yang halus. Relief - relief cerita ini sangat indah, bahkan dapat dianggap paling anggun dan elegan dalam dunia kesenian agama Budha.

Relief Cerita Borobudur

Candi Borobudur memang begitu istimewa dan bangunannya sangat megah di antara sebagian besar candi - candi yang terdapat di Indonesia, bukan hanya karena arsitekturnya yang begitu luar biasa, tetapi juga karena kaya akan ukiran relief yang indah dan menakjubkan. Bahkan pahatan relief dan ukiran yang menutupi dinding dan langkan bangunan ini merupakan gambaran seni yang memiliki nilai estetika luar biasa sebagai candi suci umat Budha.

Relief cerita yang terdapat pada Candi Borobudur juga menerapkan disiplin seni rupa yang berasal dari India, hal ini dapat dilihat seperti dalam berbagai bentuk sikap tubuh yang memiliki arti makna atau nilai estetis tertentu. Penggambaran relief - relief dalam wujud manusia yang mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari ataupun makhluk - makhluk yang mencapai derajat kesucian setara dengan dewa, seperti tara dan juga boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan bentuk posisi tubuh yang dinamakan tribhanga. Posisi tubuh ini lebih khusus disebut "lekuk tiga", yaitu posisi tubuh melekuk atau sedikit condong pada beberapa bagian seperti leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sedangkan kaki yang lainnya dilekuk dalam posisi beristirahat. Posisi - posisi tubuh yang luwes ini memiliki arti menyiratkan suatu keanggunan, misalnya bentuk figur bidadari Surasundari yang digambarkan sedang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam bunga teratai bertangkai panjang.

Relief - relief di Candi Borobudur juga menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuh - tumbuhan, tanaman dan hewan, serta menampilkan bentuk - bentuk bangunan tradisional khas Nusantara. Candi Borobudur tak ubahnya dikatakan bagaikan suatu kitab yang merekam berbagai macam aspek kehidupan masyarakat pada masa Jawa kuno. Banyak arkeolog telah meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara pada abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk tentang ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti. Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan bahwa kebudayaan bahari purbakala yang dibuat berdasarkan relief Borobudur dengan nama kapal Samudra Raksa.

Salah satu relief Kapal Borobudur
Gambaran terkenal dari kapal cadik ganda Asia Tenggara abad ke-8 adalah Kapal Borobudur Samudra Raksa, berlayar dari Indonesia ke Afrika. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief - relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jataka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Relief naratif pada dinding dibaca dari kanan ke kiri, dan pada langkan dibaca dari kiri ke kanan. Hal ini dilakukan untuk keperluan pradaksina, yaitu ritual mengelilingi yang dilakukan peziarah, bergerak searah jarum jam dan menjaga tempat suci di sebelah kanannya. Narasi dimulai dari kiri dan berakhir di kanan tangga timur, menegaskan bahwa tangga tersebut adalah pintu masuk monumen yang sebenarnya.

Dinding Ukiran Borobudur

Candi Borobudur dibangun dengan sedemikian rupa sehingga monumen ini memperlihatkan berbagai tingkat pahatan relief pada dindingnya, dengan bentuk arsitektur rumit yang menggambarkan relief-relief tersebut, mulai dari yang banyak dihiasi relief, hingga polos di teras-teras melingkar Arupadhatu. Pada dinding-dinding candi di setiap tingkatan, kecuali pada teras-teras lingkaran Arupadhatu, dipahatkan panel-panel relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Budha.

Para arkeolog menemukan pigmen biru, merah, hijau, hitam, serta berbagai potongan kertas emas, dan menyimpulkan bahwa monumen tersebut adalah kumpulan batuan vulkanik berwarna abu-abu tua, kurang berwarna atau mungkin telah dilapisi dengan plester varjalepa putih dan kemudian dicat dengan warna-warna cerah, yang mungkin berfungsi sebagai gambaran kesenian agama Budha. Plester vajralepa yang sama juga dapat ditemukan di Candi Sari, Kalasan, dan Sewu. Kemungkinan besar relief dasar Borobudur awalnya berwarna-warni, sebelum curah hujan tropis yang deras selama berabad-abad menghapus pigmen warnanya.

Candi Borobudur berisi sekitar 2.670 relief dasar individu (1.460 narasi dan 1.212 panel dekoratif), yang menutupi dinding dan langkan. Total permukaan reliefnya adalah 2.500 meter persegi (27.000 kaki persegi), dan tersebar di kaki tersembunyi (Kamadhatu) dan lima platform persegi (Rupadhatu).

Ukiran relief Borobudur terbagi menjadi dua jenis yaitu naratif dan dekoratif. Panel 1460 tersebut merupakan relief naratif yang disusun dalam sebelas baris, semuanya dipahat pada batu dan mengelilingi monumen dengan panjang total lebih dari 3000 m. Panel dekoratif 1212, meskipun disusun berjajar, diperlakukan sebagai relief tersendiri. Tampilan relief rangkaian pertama berasal dari 160 panel naratif yang letaknya pada kaki tersembunyi sehingga tidak terlihat. Untungnya, satu set foto lengkap telah dibuat tidak lama setelah ditemukan kembali, dan foto-foto tersebut dapat diidentifikasi menggambarkan tentang cara kerja hukum karma menurut teks Mahakarmavibhangga.

Sepuluh rangkaian relief naratif lainnya tersebar di seluruh Rupadhatu pada dinding dan langkan keempat galeri. Galeri pertama diapit oleh empat seri; tiga galeri pemasangan berturut-turut lainnya hanya memiliki dua seri. Dinding galeri pertama, setinggi lebih dari 3,5 m, mempunyai dua rangkaian relief yang saling bertumpukan, masing-masing terdiri dari 120 panel.

Baris atas menceritakan biografi Sang Budha menurut teks Latitavistara. Baris bawah menggambarkan kehidupan masa lalunya, seperti yang diceritakan dalam Jataka Avadana, yaitu inkarnasi awal ini sebelum dilahirkan menjadi Budha historis juga dikisahkan dalam dua baris relief di langkan. Langkan galeri kedua memiliki seri Jataka dan Avadana lainnya, namun panel dindingnya mengambil tema baru.

Karena hanya ada satu baris di tembok setinggi hampir 3 m, maka ukurannya jauh lebih besar daripada yang ada di dinding galeri pertama. Seri 128 panel ini membahas pengembaraan Sudhana yang tak kenal lelah dalam mencari Kebenaran Tertinggi, seperti yang diceritakan dalam teks Gandavyuha. Dinding dan langkan galeri ketiga dan keempat dikhususkan untuk pengembaraan Sudhana selanjutnya, yang diakhiri dengan pencapaian Kebijaksanaan Tertinggi. Ada di seluruh 1460 panel.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus, bahkan dianggap paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Budha. Keindahan seni ukir adalah relif-relief Karmawibangga, Lalitavistara, Jataka Awadana, dan Gandavyuha pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Panel naratif pada dinding dibaca dari kanan ke kiri, sedangkan pada langkan dibaca dari kiri ke kanan. Hal ini sesuai dengan pradaksina yaitu ritual pradaksina yang dilakukan oleh jamaah yang bergerak searah jarum jam dengan tetap menjaga tempat suci di sebelah kanannya.

Relief Cerita Borobudur

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Relief cerita pada dinding - dinding Candi Borobudur berjumlah 1.460 adegan, yang terdiri dari relief dekoratif (hiasan) berjumlah 1.212 pigura, dan seluruhnya tersusun dalam 11 deret yang mengelilingi bangunan. Sebagian besar seluruh relief yang ada di Borobudur merupakan rangkaian relief yang mempunyai jalan cerita yang terdiri atas gambaran dewa, manusia, binatang, pohon, bangunan rumah, dan lain-lain.

Relief Candi Borobudur mampu menghadirkan suasana tertentu sehingga bagaikan kumpulan kitab suci, Candi Borobudur mengabadikan isi kitab suci secara visual dimulai dari bagian kaki candi sampai dengan dinding lorong tingkat 1-4. Gambaran yang dipahatkan pada relief Karmawibhangga diperoleh dari kenyataan realita kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad VIII – IX Masehi. Relief Karmawibhangga menyimpan banyak informasi, diantaranya kondisi flora fauna, lingkungan alam, status sosial, bentuk pakaian, alat musik, alat upacara, mata pencaharian, peranan wanita, dan masih banyak lainnya.

Panel naratif pada dinding dibaca dari kanan ke kiri, sedangkan pada langkan dibaca dari kiri ke kanan. Hal ini sesuai dengan pradaksina yaitu ritual berjalan yang dilakukan oleh para peziarah yang bergerak searah jarum jam dengan tetap menjaga tempat suci di sebelah kanannya. Berikut Susunan dan pembagian relief cerita Candi Borobudur pada dinding dan pagar langkan adalah sebagai berikut:

Kaki candi - Karmawibhangga - 160 Pigura.
Tingkat I
Dinding Utama a. Lalitawistara - 120 Pigura. b. Jataka/Awadana - 120 Pigura.
Langkan a. Jataka/Awadana - 372 Pigura. b. Jataka/Awadana - 128 Pigura.
Tingkat II
Dinding - Gandawyuha - 128 Pigura.
Langkan - Jataka/Awadana - 100 Pigura.
Tingkat III
Dinding - Gandawyuha - 88 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 88 Pigura.
Tingkat IV
Dinding - Gandawyuha - 84 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 72 Pigura.
Jumlah - 1460 Pigura.

Dinding panel relief cerita
Relief cerita dan galeri ukiran pada dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Kaki Candi; Relief Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga didinding sudut tenggara yang sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab - akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan suatu cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala.

Kaki candi tersembunyi merupakan deretan relief yang ditulis dalam teks Karmawibhangga yaitu menjelaskan tentang gambaran ajaran karma. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Budha rantai tersebutlah yang akan di akhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung.

Lalitawistara

Lalitawistara atau Lalitavistara Sutra merupakan kisah tentang penggambaran riwayat hidup Sidharta Gautama Sang Budha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Budha dari Surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Budha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Budha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Budha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Budha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan agama Budha Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui aliran Budha Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

Jataka dan Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Budha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an. Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Gandawyuha

Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2, adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Budha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca Budha itu ada tetapi tak terlihat.

Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Candi Borobudur dan membaca lebih menyenangkan dalam bahasa Inggris serta terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments