Waisak di Borobudur, Makna Kehidupan dalam Budaya Budha
Lebih dikenal Borobudur, bangunan suci agama Budha, merupakan situs warisan budaya dunia. Kemegahan dan keindahan arsitektur yang ditampilkan Borobudur memiliki makna dan nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia menetapkan Candi Borobudur dan kawasannya sebagai cagar budaya, dan juga tujuan wisata utama untuk pengunjung nusantara dan mancanegara.
Candi Borobudur dan kawasannya memiliki daya tarik luar biasa untuk menelusuri narasi sejarah dalam wisata sejarah dan budaya, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini. Borobudur memiliki arti makna yang mendalam sebagai simbol perjalanan ranah spiritual umat Budha untuk menuju pencerahan dan pembebasan dari segala penderitaan. Bangunan ini juga merupakan representasi alam semesta dan ajaran Budha, sekaligus menjadi pusat ziarah dan perayaan upacara Waisak.
Makna Borobudur
Candi Borobudur bukan hanya merupakan suatu bangunan suci keagamaan, tetapi juga satu mahakarya arsitektur dan seni rupa yang kaya akan nilai-nilai budaya dan sejarah. Pembangunan Candi Borobudur juga merupakan simbol kekuatan dan kejayaan Wangsa Syailendra yang pernah berkuasa pada masa itu. Candi ini menjadi simbol kejayaan kerajaan yang berlatar belakang Budha di Jawa dan memperlihatkan kemampuan teknik dan seni masyarakat Jawa kuno.
Candi Borobudur bukan hanya suatu bangunan yang memiliki nilai sejarah, tetapi merupakan satu karya seni yang sarat dengan makna filosofis dan ranah spiritual yang mendalam. Bangunan ini merupakan candi, sebagai tempat suci untuk ziarah dan meditasi yang lebih menjadi simbol perjalanan spiritual, ajaran - ajaran Budha, dan warisan budaya yang kaya dan luar biasa dari peradaban masa lalu.
Arti Relijius
Candi Borobudur memiliki makna yang mendalam sebagai representasi alam semesta dan perjalanan ranah spiritual menuju pencerahan dalam ajaran - ajaran Budha. Borobudur dibangun sebagai model alam semesta dalam kosmologi Budha. Strukturnya yang bertingkat menggambarkan tiga tingkatan alam, yakni; Kamadhatu (tingkat bawah), yang melambangkan dunia keinginan dan nafsu duniawi; Rupadhatu (tingkat tengah), adalah melambangkan dunia bentuk, di mana manusia mulai melepaskan keinginan duniawi; dan Arupadhatu (tingkat atas), yang melambangkan dunia tanpa bentuk, mencerminkan pencapaian nirwana atau kesempurnaan spiritual. Setiap tingkatan memiliki karakteristik dan bentuk ukiran yang berbeda, mencerminkan perjalanan spiritual dari kehidupan duniawi menuju pencerahan (nirwana).
Candi Borobudur berfungsi sebagai tempat ziarah bagi umat Budha untuk melakukan perjalanan spiritual. Umat Budha berjalan mengelilingi candi dari tingkat bawah menuju ke atas, dalam merepresentasikan perjalanan spiritual untuk membersihkan diri dari segala dosa dan mencapai pencerahan. Relief - relief yang terpahat di dinding candi yang menceritakan kisah - kisah tentang ajaran Budha, kehidupan Budha, dan nilai - nilai moral akan menjadi panduan dalam perjalanan spiritual dari kehidupan duniawi menuju pencerahan sesuai ajaran Budha. Puncak candi, dengan stupa utama, melambangkan pencapaian tertinggi dalam ajaran Budha, yaitu nirwana atau pembebasan dari penderitaan.
Relief - relief yang terdapat di dinding candi menceritakan kisah hidup Budha, ajaran-ajarannya, dan kisah-kisah Jataka yang mengandung nilai moral dan kebajikan. Relief - relief di Candi Borobudur tidak hanya menampilkan kisah Budha, tetapi juga nilai - nilai moral dan etika yang diajarkan dalam agama Budha. Relief Karmawibhangga, misalnya, menggambarkan hukum sebab akibat (karma) dalam kehidupan manusia. Relief Jataka dan Awadana menceritakan kisah - kisah kehidupan lampau Budha dan para Bodhisattva, yang penuh dengan ajaran tentang cinta kasih, pengorbanan, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan, dan rasa hormat terhadap orang tua juga tergambar dalam relief-relief tersebut.
Candi Borobudur telah menjadi inspirasi dalam berbagai bidang seni, seperti seni rupa, batik, dan arsitektur. Motif - motif relief dari Candi Borobudur sering digunakan dalam karya seni modern. Candi ini juga menjadi rujukan penting dalam pendidikan sejarah dan kajian budaya. Borobudur adalah tempat suci bagi umat Budha untuk melakukan ziarah dan juga napak tilas ajaran agama Budha, serta merayakan hari besar, upacara Waisak.
Sebagai salah satu bangunan suci bagi umat Budha di Indonesia, Borobudur merupakan bangunan kuno dan tempat prosesi dan ziarah keagamaan. Candi Budha terbesar yang pernah dibangun oleh Samaratungga, merupakan tempat peribadahan dan pemujaan bagi umat Budha. Bahkan, sebagai apresiasi yang cukup besar Unesco memasukkan Candi Borobudur dalam daftar warisan budaya dunia yang memiliki salah satu kriteria yaitu memiliki nilai seni arsitektur Borobudur dengan bentuk atau simbol bunga teratai.
Pasca pemugaran Borobudur yang kedua pada tahun 1973 yang dilakukan atas kerja sama Pemerintah Indonesia dan UNESCO, perhatian terhadap pembangunan situs ini menjadi semakin baik. Hal ini terlihat dengan dibukanya kembali Borobudur sebagai tempat ibadah dan pusat upacara keagamaan bagi umat Budha. Bagi sebagian besar umat Budha, upacara ini disebut dengan upacara Tri Suci Waisak. Diadakan setahun sekali pada saat bulan purnama, di bulan Mei atau Juni, umat Budha di Indonesia mengunjungi Candi Borobudur untuk memperingati hari suci Waisak.
Upacara ini sangat bermakna bagi umat Budha, dilaksanakan dengan tujuan untuk memperingati tentang kelahiran, mengenang saat peristiwa pencerahan Sidharta Gautama yang telah mencapai tingkat kebijaksanaan tertinggi yaitu menjadi Budha Shakyamuni, dan serta wafatnya.
Prosesi Waisak di Indonesia bagi umat Budha dirayakan di tiga candi Budha yaitu Borobudur, Pawon dan Mendut. Setiap tahunnya upacara Waisak dipusatkan di Candi Borobudur, yang diawali dengan ritual jalan kaki sepanjang 2 kilometer dimulai dari Candi Mendut menuju Candi Pawon dan kemudian prosesi ritual berakhir di Candi Borobudur.
Melihat prosesi dalam upacara Waisak, menurut filosofi Budha, Borobudur secara simbolis memiliki tiga tingkat alam spiritual. Dalam filsafat Budha, ketiga tingkatan ini melambangkan Kamadhatu yang berarti dunia nafsu, Rupadhatu yang berarti dunia bentuk, dan Arupadhatu yang berarti tak berbentuk. Ketiga tingkatan yang terdapat di Candi Borobudur dengan sempurna menjelaskan secara rinci arti dan makna dalam tiga tingkatan sebagaimana makna bhurloka, yaitu bumi, bhuvarloka yang berarti atmosfer, dan svarloka yang berarti surga yang merupakan lambang kesempurnaan Alam Semesta.
Sekilas Waisak
Candi Borobudur merupakan pusat keagamaan dan ziarah bagi umat Budha. Setiap tahun, umat Budha di Indonesia berada di Borobudur untuk memperingati hari suci Waisak, sebagai makna simbolis ziarah bagi para biksu dan umat Budha. Waisak merupakan hari untuk merayakan kelahiran, pencerahan, dan kematian Budha. Ini merupakan hari yang sangat penting bagi umat Budha khususnya di Candi Borobudur, yang dirayakan dengan serangkaian acara pada satu hari yang telah dipilih berdasarkan filosofi Budha. Di Indonesia, bagi umat Budha, ini adalah hari libur yang disebut "Hari Waisak", dan upacara tersebut biasanya diadakan pada hari bulan purnama di bulan Mei atau Juni yang dipilih setiap tahun. Upacara Waisak diadakan dan dipusatkan khusus di Candi Borobudur.
Waisak merupakan hari suci umat Budha, yang setiap tahunnya selalu diperingati secara nasional dan bahkan menjadi hari libur resmi di Indonesia. Penetapan Waisak sebagai hari libur nasional sudah diberlakukan sejajar dengan Hari Raya Nyepi. Setiap purnama di bulan Waisak, umat Budha memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Budha Gotama. Yakni kelahiran, pencerahan, dan wafatnya. Tiga peristiwa inilah yang menjadi dasar kenapa hari raya ini juga dikenal sebagai Hari Trisuci.
Waisaka (dikenal sebagai Waisak di seluruh dunia) adalah hari untuk merayakan kelahiran, pencerahan, dan kematian Budha. Ini adalah hari penting bagi negara-negara Budha di Asia, dirayakan dengan cara mereka sendiri pada hari yang dipilih berdasarkan filosofi Budha mereka.
Di Indonesia, ini adalah hari libur yang disebut “ Hari Raya Waisak ”, biasanya hari bulan purnama di bulan Mei dipilih setiap tahunnya. Dan festival Budha yang paling suci dan meriah diadakan di Candi Borobudur, kota kecil yang memiliki candi Budha kuno terbesar di dunia.
Selama upacara prosesi berlangsung, banyak biksu dan umat Budha yang mengunjungi Candi Borobudur tidak hanya dari kota lain di Indonesia tetapi juga dari seluruh dunia. Berdoa dan bermeditasi di pura, melakukan prosesi dengan berjalan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur pada siang hari. Pada malam hari, upacara menerbangkan lampion di halaman Candi Borobudur yang disertai dengan penuh harapan di bawah bulan purnama.
Saat ini upacara Waisak dikenal sebagai objek wisata karena pemandangannya yang menarik, namun sebelumnya upacara ini hanya diperuntukkan bagi para biksu dan umat Budha. Suasana misterius dan sakral masih tetap ada, jika mengikuti upacara ini, terdapat suasana damai dan dapat merasakan suatu penyucian.
Makna Simbolis Borobudur
Candi Borobudur memiliki makna mendalam sebagai representasi alam semesta dan perjalanan spiritual menuju pencerahan dalam ajaran Budha. Struktur candi yang bertingkat melambangkan tiga tingkatan alam (kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu) yang menggambarkan perjalanan menuju nirwana. Relief - relief di Candi Borobudur tidak hanya menampilkan kisah - kisah Budha, tetapi juga nilai - nilai moral dan etika yang diajarkan dalam agama Budha. Relief Karmawibhangga, misalnya, menggambarkan hukum sebab akibat (karma) dalam kehidupan manusia. Relief Jataka dan Awadana menceritakan kisah - kisah kehidupan lampau Budha dan para Bodhisattva, yang penuh dengan ajaran tentang cinta kasih, pengorbanan, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai seperti gotong royong, keadilan, dan rasa hormat terhadap orang tua juga tergambar dalam relief-relief tersebut.
Candi Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan tertinggi sesuai dengan ajaran Budha.
Borobudur secara simbolis mempunyai tiga tingkatan ranah spiritual dalam filosofi agama Budha, ketiga tingkatan itu adalah kamadhatu yang artinya melambangkan dunia hawa nafsu, rupadhatu yang mempunyai arti dunia bentuk, dan arupadhatu yang artinya tidak berbentuk. Ketiga tingkatan yang ada di Candi Borobudur menjelaskan secara sempurna tentang arti yang menggambarkan makna bhurloka yaitu bumi, bhuvarloka yang berarti atmosfer, dan svarloka yang berarti surga, yang merupakan simbol dari kesempurnaan Alam Semesta.
Konsep Bukit Kebajikan adalah murni dalam ranah spiritual bagi agama Budha. Kosmologi Budha terdapat anggapan yang tidak banyak apabila mengartikan sebagai hubungan yang signifikansi untuk hal tersebut. Bagi Budha dikatakan pernah memberikan instruksi kepada murid-muridnya agar pada suatu ketika untuk membakar mayatnya setelah memasuki nirwana, dan selanjutnya menyimpan abunya di dalam tempat yang disebut stupa.
Ketika ditanya apa sebenarnya yang dinamakan stupa, dengan tergesa - gesa Sang Guru melipat pakaiannya di tanah, kemudian meletakkan yang selalu dibawa untuk berkelana yaitu mangkuk pengemisnya secara terbalik di atas pakaiannya, dan pada akhirnya meletakkan tongkatnya tepat di atas mangkuk tersebut. Hal ini adalah untuk menjelaskan sesuatu benda yang menghasilkan bentuk yang biasanya terdiri dari bentuk bagian dasar persegi, kubah dengan bentuk setengah lingkaran dan terdapat puncak diatas.
Pada dasarnya, apabila mengambil arti dan makna simbolis Candi Borobudur memiliki dua asal, dalam agama Budha Mahayana, dan pemujaan bagi leluhur. Sepuluh tingkat dalam pemasangan struktur kemudian sesuai dengan sepuluh tahap berturut - turut yang harus dicapai Bodhisattva sebelum mencapai Ke-Buddha-an.
Nilai estetika keindahan dan kemegahan seni arsitektur yang luar biasa yang ditampilkan secara dengan tradisi adalah apresiasi lebih lanjut dari penghargaan tertinggi pendiri Candi Borobudur untuk nenek moyang yang ia identifikasikan dengan Sang Budha; dan piramida berundak dengan stupa sebagai mahkota di atasnya adalah simbol yang paling tepat untuk menggambarkan kebajikan yang telah dikumpulkan dinasti secara turun-temurun di dalam kebijaksanaan sesuai dengan ajaran Bodhisattva.
Sekilas Tentang Agama Budha
Agama Budha dalam arti meditasi adalah cara hidup, agama Budha pada mulanya bukanlah sebuah agama. Ini lebih merupakan sebuah doktrin yang menjelaskan bagaimana mencapai pembebasan akhir dari semua penderitaan, dan dalam arti yang lebih luas untuk menghilangkan karrna, menghancurkan samsara, dan pada akhirnya mencapai nirwana.
Doktrin yang mendasarinya adalah keyakinan bahwa hidup adalah kesengsaraan. Dunia ini tidak nyata, sehingga makna hidup dalam segala aspeknya hanyalah ilusi. Itu berubah sepanjang waktu, dan tidak ada yang abadi di dalamnya. Kehidupan merupakan kelanjutan dari kehidupan sebelumnya, dan persiapan untuk kehidupan selanjutnya, merupakan perhentian dalam siklus kelahiran dan kelahiran kembali yang tiada akhir. Bentuk dan kondisi tiap stasiun ditentukan oleh pendahulunya.
Faktornya bukan pikiran, tapi karma, keseimbangan perbuatan baik dan buruk. Keseimbangan positif akan menjamin kehidupan selanjutnya yang lebih baik, dan kehidupan yang terus membaik akan berujung pada kelahiran kembali di surga. Oleh karena itu, tujuan utamanya adalah menghindari segala bentuk kelahiran kembali. Pada tahap akhir ini, pemuja mencapai tingkat arahat untuk memasuki nirwana, yang merupakan kehampaan mutlak.
Empat Kebenaran Mulia menjelaskan bagaimana keselamatan tertinggi dari samsara dicapai. Keyakinan bahwa hidup adalah penderitaan adalah Kebenaran pertama. Kedua, penderitaan disebabkan oleh keinginan untuk hidup dan melekat pada dunia fenomenal. Kebenaran ketiga adalah bahwa penderitaan dapat dihilangkan dengan memadamkan segala keinginan. Yang keempat dirumuskan dalam Jalan Berunsur Delapan, yang menunjukkan bagaimana cara memadamkan nafsu.
Jalan Berunsur Delapan terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut; (1) Pandangan yang benar, (2) Pikiran dan tujuan yang benar, (3) Ucapan yang benar, (4) Perilaku yang benar, (5) Penghidupan atau pekerjaan yang benar, (6) Semangat yang benar, (7) Ingatan yang benar, yang mempertahankan benar dan mengesampingkan yang salah, (8) Meditasi yang benar.
Keinginan adalah sumber fundamental dari pada kesengsaraan, hasil dari pandangan terang yang ilusif. Sumber utama dari semua penderitaan adalah avidya atau ketidaktahuan. Dalam teks Lalitavistara, Jalinan Kehidupan Dalam Ajaran Budha.
Selain wujud Budha dalam kosmologi agama Budha, juga ukiran relief yang terukir di dinding Borobudur terdapat banyak bentuk arca Budha duduk bersila dalam posisi teratai sempurna serta menampilkan mudra atau sikap tangan yang mempunyai arti simbolis tertentu. Patung-patung Budha dengan tinggi sekitar 1,5 meter ini dipahat, yang menampilkan beberapa posisi sikap tangan atau mudra. Stupa utama berada di tengah, dikelilingi oleh 72 arca Budha, masing - masing duduk di dalam stupa berlubang. Patung Budha yang terletak dalam relung - relung di tingkat Rupadhatu, diatur berdasarkan barisan di sisi luar pagar langkan. Jumlahnya semakin berkurang pada sisi atasnya. Barisan pagar langkan pertama terdiri dari 104 relung, baris kedua 104 relung, baris ketiga 88 relung, baris keempat 72 relung, dan baris kelima 64 relung. Jumlah total terdapat 432 arca Budha di tingkat Rupadhatu.
Dengan kata lain, patung Borobudur menunjukkan lima jenis mudra, sesuai dengan lima titik mata angin (Timur, Barat, Utara, Selatan, Zenith), dan juga konsepsi Mahayana tentang lima Dhyani Budha. Satu titik kompas dianggap berasal dari setiap Dhyani Budha, dan perbedaan antara Dhyani Budha ditunjukkan oleh mudra yang berbeda. Secara sepintas semua arca buddha ini terlihat serupa, akan tetapi terdapat perbedaan halus di antaranya, yaitu pada mudra atau posisi sikap tangan.
Terdapat lima golongan mudra: Utara, Timur, Selatan, Barat, dan Tengah, kesemuanya berdasarkan lima arah utama kompas menurut ajaran Mahayana. Keempat pagar langkan memiliki empat mudra: Utara, Timur, Selatan, dan Barat, di mana masing-masing arca Budha yang menghadap arah tersebut menampilkan mudra yang khas. Arca Budha pada pagar langkan kelima dan arca Budha di dalam 72 stupa berterawang di pelataran atas menampilkan mudra: berada di Tengah atau Pusat. Pada masing-masing mudra melambangkan lima Dhyani Budha; masing-masing dengan makna simbolisnya tersendiri.
Mengikuti urutan Pradakshina yaitu gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi Timur, maka mudra arca-arca Budha di Borobudur adalah:
Bhumisparca Mudra
Arca ini menghadap timur dan menjadi tanda khusus bagi Dhyani Budha Aksobhya sebagai penguasa timur. Sikap tangan sedang menghadap kebawah, tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedangkan tangan kanan menempel pada lutut kanan dengan jari-jari menunjuk kebawah. Melambangkan saat sang Budha memanggil Dewi Bumi sebagai saksi ketika dia menangkis serangan iblis Mara.
Wara Mudra
Mudra ini dapat dikenali Dhyani Budha Ratna Sambawa yang bertahta di selatan. Arca ini menghadap selatan. Telapak tangan yang kanan menghadap keatas sedangkan jari-jarinya terletak di lutut kanan. Mudra ini melambangkan pemberian amal.
Dyhana Mudra
Arca ini menghadap ke barat dan merupakan tanda khusus bagi Dhyani Budha Amitabha yang menjadi penguasa daerah sebelah barat. Mudra ini menggambarkan sikap tangan semedi, kedua tangan diletakkan di pangkuan, yang kanan diatas yang kiri dengan telapaknya menengadah dan kedua jempolnya saling bertemu.
Abhaya Mudra
Arca ini menghadap ke utara Langkan dan merupakan tanda khusus bagi Dhyani Budha Amogasidha yang berkuasa diutara. Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut kanan dengan telapak menghadap muka. Mudra ini menggambarkan sikap tangan sedang menenangkan dan menyatakan ketidakgentaran.
Witarka Mudra
Mudra ini menjadi ciri khas bagi Dhyani Budha Waroicana. Arca ini terdapat di tengah, pada tingkat Rupadhatu di pagar langkan baris kelima (teratas). Tangan kiri terbuka dan menengadah dipangkuan, sedangkan tangan kanan diangkat sedikit diatas lutut kanan dengan telapak menghadap muka, jari telunjuk dan ibu jari bersatu. Mudra ini menggambarkan akal budi.
Dharmacakra Mudra
Mudra ini menjadi ciri khas bagi Dhyani Budha Waroicana yang daerah kekuasaannya terletak di pusat. Kedua tangan diangkat sampai ke depan dada, yang kiri dibawah yang kanan. Tangan kiri menghadap ke atas dengan jari manisnya, serupa dengan gerakan memutar roda. Mudra ini melambangkan gerak memutar roda dharma. Para Budha di langkan paling atas (kelima) semuanya memiliki mudra yang sama, terlepas dari arah mana mereka menghadap. Mudra yang sama ini juga menjadi ciri 72 arca di tiga teras melingkar.
Dengan kata lain, patung-patung Borobudur menunjukkan lima jenis mudra, sesuai dengan lima titik mata angin (Timur, Barat, Utara, Selatan, Zenith), dan juga konsepsi Mahayana tentang lima Dhyani Budha. Satu titik kompas dianggap berasal dari setiap Dhyani Budha, dan perbedaan antara Dhyani Budha ditunjukkan oleh Lima Dhyani Budha yang berbeda adalah emanasi dari Adi Budha (Budha Agung atau Purba), yang umumnya tidak terwakili dalam bentuk nyata apapun.
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.
Barabudur or Borobudur is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Budha statues.
Menjelajahi Borobudur, bangunan suci Budha merupakan sesuatu yang sangat istimewa dan semakin menyenangkan. Membaca dan menggali narasi lebih detail dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi dan kagumi keindahan seni rupa dalam gambar serta foto dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.
Comments
Post a Comment