Menjelajah Bentang Alam Kawasan Borobudur, Sejarah Dan Budaya Masa Lalu


Candi Borobudur merupakan salah satu bangunan suci agama Budha sebagai situs cagar budaya peninggalan Wangsa Sailendra yang ada di Jawa abad ke-8 Masehi. Kemegahan dan keindahan Borobudur sebagai destinasi wisata utama menjadikan Borobudur sebagai situs Warisan Budaya Dunia yang memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia.

Borobudur dan kawasannya menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengenal Borobudur, sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Pemerintah telah menetapkan Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki daya tarik wisata dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Bentang alam Borobudur
Lansekap pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Berwisata untuk mengenal Borobudur dan sekitarnya, menyelami narasi sejarah, arsitektur, dan seni budaya bangunan ini, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam melestarikan warisan budaya leluhur. Menemani dengan memberikan narasi dan penjelasan yang bertujuan untuk mengenal lebih jauh sejarah dan budaya sekitar Borobudur. Jelajahi literatur bentang alam lingkungan Candi Borobudur dan sekitarnya di masa lalu dalam wisata sejarah dan budaya yang menyenangkan dan menarik.

Bentang Alam Borobudur

Mengartikan lanskap / bentang alam Borobudur lebih membahas pada lingkungan sekitar keberadaan bangunan Candi Borobudur, yang merupakan situs warisan budaya dunia UNESCO. Lanskap / bentang alam ini meliputi alam, sejarah, dan budaya yang masing-masing saling terkait, dan memiliki nilai-nilai penting baik bagi pariwisata maupun dalam pelestarian budaya. Berikut beberapa aspek penting dari lanskap / bentang alam kawasan Borobudur:

Makna Bentang Alam Borobudur

Penjelasan tentang makna dan arti penting tafsir bentang alam Borobudur diawali dengan pembahasan tentang kosmologi dalam kepercayaan agama Budha. Secara sederhana, dimulai dari kosmos yang dipahami sebagai dunia / alam semesta beserta tatanannya. Dalam kosmologi Hindu - Budha meyakini adanya paralelisme antara makrokosmos dan mikrokosmos, yakni antara alam semesta dengan kehidupan manusia.

Pada konsep alam semesta Budha di atas, harus diwujudkan kedalam skala yang lebih kecil dalam kehidupan manusia yaitu mikrokosmos, untuk mencapai suatu keselarasan. Dalam konteks Candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha, maka penerapan kosmologi ini dapat menjadi suatu keniscayaan, yang diartikan baik dalam pemilihan lokasi maupun dalam pembangunan bangunan suci.

Secara keseluruhan, desain struktur yang dimiliki dan ditampilkan Candi Borobudur diyakini merepresentasikan bentuk mandala. Mandala tidak hanya dipandang sebagai bentuk geometris dalam arsitektur bangunan suci, akan tetapi merupakan 'jalan' bagi manusia untuk mencapai tingkat kesempurnaan yaitu pencerahan.

Makna konseptual bentang alam Borobudur memiliki penjelasan tentang Makrokosmos yaitu tatanan alam semesta dalam ajaran Budha yang digambarkan dalam suatu sistem yang pusatnya adalah gunung suci yang memiliki kekuatan kosmik yang disebut dengan Meru. Gunung Meru dikelilingi oleh tujuh barisan pegunungan, yang masing - masing dipisahkan oleh tujuh lingkaran samudra. Bagian terluar dari pegunungan tersebut membentang melintasi samudra, di atasnya terdapat empat daratan yang berada di empat arah mata angin. Daratan di sebelah selatan Gunung Meru merupakan Jambudwipa, yakni tempat tinggal manusia. Dalam sistem ini, alam semesta juga dikelilingi oleh dinding yang menyerupai batu besar, yaitu Cakrawala.

Mandala menjelaskan tidak hanya dipandang sebagai bentuk geometris dalam arsitektur bangunan suci, tetapi juga merupakan "jalan" bagi manusia untuk mencapai kesempurnaan dan pencerahan. Konsep mandala pada bangunan Candi Borobudur diulang dalam lanskap / bentang alam yang lebih luas. Kosmologi alam semesta Budha juga diterapkan dalam pemilihan lokasi bangunan suci ini. Perhitungan yang cermat dalam perencanaan, penataan ruang, struktur, dan arsitektur menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi candi. Aturan pembangunan bangunan suci Hindu - Budha dapat ditemukan dalam buku-buku arsitektur India kuno. 

Terdapat salah satu buku yang menjelaskan secara rinci hal - hal yang harus diperhatikan oleh para pendeta, arsitek, dan arsitek perencana dalam memilih lokasi untuk membangun bangunan suci. Buku tersebut juga menjelaskan komponen - komponen arsitektur yang terbagi menjadi empat bagian, yaitu tanah, bangunan utama dan pendukung, infrastruktur transportasi, dan tempat tidur. Tanah / tempat merupakan komponen yang terpenting dalam pembangunan bangunan suci, sehingga pemilihan lokasi harus dilakukan dengan cermat. Unsur - unsur bentang alam yang penting dalam kosmologi alam semesta seperti; gunung, daratan, dan air harus dipenuhi dalam menentukan lokasi bangunan candi. Gambaran - gambaran makrokosmos dapat ditemukan di kawasan Borobudur. Terkait Meru, jika mengacu pada kitab Weda dari India Hindu Kuno, merupakan pilar dunia atau pusat kosmos. Di sekelilingnya terdapat beberapa gunung - gunung suci, terutama di empat arah mata angin dengan para dewa sebagai penguasanya.

Terkait dengan Meru, terdapat pula telaga nirwana yang airnya merupakan air keabadian. Dari Meru mengalir Sungai Gangga, dan kehidupan para penghuni Nirwana bergantung pada Meru. Candi Borobudur terletak di Cekungan Kedu yang secara geografis hampir tepat berada di tengah Pulau Jawa. Kawasan Borobudur sejatinya dikelilingi oleh gunung, perbukitan dan terdapat gunung yang dialiri oleh sungai - sungai besar seperti Sungai Progo, Elo, dan Sileng, serta Danau Borobudur di sekitar Candi Borobudur. Konfigurasi ini menggambarkan Candi Borobudur sebagai Meru. 

Lingkungan alam kawasan Borobudur dapat diartikan sebagai sistem alam semesta Budha. Candi Borobudur melambangkan Gunung Meru (gunung kosmis), sedangkan gunung - gunung yang mengelilingi kawasan Borobudur dapat dilihat sebagai simbol deretan gunung suci yang dikuasai oleh para dewa. Danau Nirwana dilambangkan oleh Danau Purba Borobudur dan sungai - sungai yang mengalir di Kawasan Borobudur (Sungai Progo dan Sungai Elo) merupakan simbol Sungai Gangga dan lautan (badan air).

Menurut Soekmono, kawasan sekitar pertemuan Sungai Progo dan Elo pada masa lampau dianggap sebagai tempat suci sehingga dalam radius kurang dari 3 km dari pertemuan kedua sungai tersebut terdapat banyak bangunan suci agama Hindu dan Budha. Meru merupakan simbolisme mandala. Candi Borobudur sebagai mandala pada dasarnya merupakan bangunan yang dibangun sebagai representasi kesatuan antara makrokosmos dan mikrokosmos, sebagai usaha manusia untuk mencapai kesempurnaan.

Lingkungan Kawasan Borobudur

Borobudur terletak di kaki Pegunungan Menoreh yang subur, dan menciptakan pemandangan alam yang indah dan elok sangat mendukung pertanian. Lahan sawah di kawasan Borobudur menghasilkan berbagai hasil pertanian yang melimpah seperti padi, buah - buahan, dan sayuran. Dimasa lalu, terdapat danau purba di sekitar Borobudur yang telah mempengaruhi konteks sejarah pembangunan candi.

Candi Borobudur terletak tepat di atas bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Menengok ke arah barat, terdapat Gunung Sundoro dan Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Dilihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang letaknya di sebelah timur Candi Borobudur dan Candi Pawon.

Menyebutkan bangunan suci candi - candi Budha, monumen keagamaan yang terletak di dataran Kedu didirikan di sekitar Candi Borobudur. Tempat suci Hindu dan Budha bisa dikatakan berdesakan dalam radius kurang dari tiga kilometer dari pertemuan dua sungai Kedu. Dari barat hingga timur, bangunan suci Budha utama di kawasan ini adalah Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan kompleks Candi Ngawen yang terdiri dari lima bangunan.

Tiga candi pertama diasumsikan membentuk satu kompleks juga, walaupun berdiri dengan jarak yang cukup jauh satu sama lain, namun garis lurus yang ditarik dari Candi Borobudur ke Candi Mendut melalui Candi Pawon menunjukkan kesatuan diantara ketiga candi tersebut. Namun tata letak seperti ini tidak ditemukan di Borobudur. Candi Mendut berjarak sekitar tiga kilometer dari Candi Borobudur, sedangkan Candi Pawon berjarak sekitar setengahnya. Menurut tradisi lisan, tiga serangkai tersebut pernah dihubungkan melalui jalur prosesi beraspal, diapit oleh langkan yang dihias dengan indah. Beberapa batu pahatan yang ditemukan di satu wilayah sebelah timur Desa Borobudur beberapa dekade yang lalu diduga merupakan sisa-sisa trotoar. Komposisi triad yang luar biasa ini menimbulkan banyak spekulasi mengenai hubungan antara Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut.

Candi Borobudur tidak memiliki ruang batin / dalam, tidak ada tempat untuk melakukan ibadah. Kemungkinan besar bahwa itu adalah tempat untuk ziarah, dimana umat Budha bisa mencari Kebijaksanaan Tertinggi. Lorong-lorong di sekitar bangunan, yang berturut-turut naik ke teras paling atas, jelas dimaksudkan untuk mengelilingi ritual tersebut. Dipandu oleh serangkaian narasi relief, peziarah berjalan dari teras satu ke teras lainnya sambil merenung dalam keheningan. Candi Mendut, sebaliknya, tampak seperti tempat untuk beribadah. Candi Pawon yang sangat kecil juga memiliki ruang dalam, tetapi tidak mengungkapkan dewa apa yang mungkin menjadi objek pemujaan. Anggapan bahwa peziarah harus melewati Candi Pawon dalam perjalanannya dari Candi Mendut ke Candi Borobudur melalui jalur prosesi yang beraspal mungkin memberikan kesan bahwa Candi Pawon merupakan semacam pusat dalam perjalanan jauh; Setelah disucikan melalui upacara ibadah wajib di Candi Mendut, Candi Pawon merupakan suatu tempat pemberhentian sejenak dan merenung sebelum mulai melanjutkan ziarah ke Candi Borobudur dimana beberapa rangkaian perjalanan menantinya.

Dahulu, terdapat cerita tentang danau purba yang terletak di sekitar Candi Borobudur yang telah mempengaruhi konteks sejarah dalam pembangunan candi. Sekilas keberadaan danau atau kolam di sekitar Candi Borobudur pertama kali dikemukakan oleh Nieuwenkamp pada tahun 1933. Candi Borobudur yang berada di atas bukit menggambarkan bunga teratai yang mengambang di tengah kolam. Bunga teratai hampir selalu ditemukan dalam seni keagamaan Budha. Arsitektur Candi Borobudur sendiri juga seperti bentuk bunga teratai yang merupakan simbol dari agama Budha Mahayana.

Secara umum, Borobudur berbeda dengan arsitektur candi - candi lainnya yang dibangun di atas tanah datar, bangunan ini dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 m di atas permukaan laut dan 15 m di atas dasar danau kuno yang telah mengering. Keberadaan danau kuno ini menjadi bahan perdebatan yang hangat di kalangan beberapa arkeolog pada abad ke-20, dan telah menimbulkan dugaan bahwa Borobudur dibangun di pinggir atau bahkan mungkin di tengah danau.

Penelitian pada tahun 1931 oleh seniman dan pakar arsitektur Hindu Budha, W.O.J. Nieuwenkamp, yang mengemukakan teori bahwa Dataran Kedu dulunya adalah sebuah danau, dan Borobudur dibangun untuk melambangkan bunga teratai yang mengambang di permukaan danau. Bunga teratai, baik yang berbentuk padma (teratai merah), utpala (teratai biru), maupun cumuda (teratai putih) dapat ditemukan di semua ikonografi seni keagamaan Budha yang sering dipegang oleh para Bodhisattva sebagai simbol regalia, yaitu sebagai tempat duduk singgasana Budha atau sebagai alas stupa. Bentuk arsitektur Candi Borobudur sendiri menyerupai bunga teratai, dan postur Budha di bangunan ini melambangkan Sutra Teratai yang biasa terdapat dalam kitab agama Budha aliran Mahayana (mazhab Budha yang kemudian menyebar ke Asia Timur). Tiga pelataran melingkar di puncak Borobudur juga diperkirakan melambangkan kelopak bunga teratai.

Akan tetapi teori Nieuwenkamp yang terdengar luar biasa dan fantastis ini menuai banyak keberatan dari para arkeolog. Di lahan sekitar bangunan ini memang telah ditemukan bukti-bukti arkeologis yang membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini merupakan lahan kering, bukan dasar danau purba. Sementara itu, para ahli geologi justru mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Kajian stratigrafi, analisis sampel sedimen dan serbuk sari yang pernah dilakukan pada tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, sehingga hal ini memperkuat gagasan Nieuwenkamp. Ketinggian permukaan danau purba ini naik turun dan selalu berubah dari waktu ke waktu, terdapat bukti yang menunjukkan bahwa kaki bukit dekat Borobudur pernah kembali terendam air dan menjadi tepian danau sekitar abad ke-13 dan ke-14.

Aliran sungai dan aktivitas gunung berapi diduga turut berkontribusi terhadap adanya perubahan bentang alam dan topografi lingkungan sekitar Borobudur, juga termasuk danaunya. Salah satu gunung berapi yang teraktif di Indonesia adalah Gunung Merapi yang letaknya cukup dekat dengan Borobudur dan sudah aktif sejak masa Pleistosen.

Gambar bentuk Candi Borobudur sebagai bunga teratai bahkan menjadi salah satu kriteria dalam penetapan Kompleks Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia. Pernyataan nilai universal yang luar biasa pada Kriteria (vi), yang menunjukkan konotasi Candi Borobudur sebagai bunga teratai. Bunga ini selalu dikaitkan dengan lingkungan perairan (danau, rawa, telaga, sungai) agar tetap hidup. Oleh karena itu, keberadaan Danau Borobudur dapat dianggap sebagai 'setting yang tepat' bagi Candi Borobudur. Setting merupakan salah satu atribut yang digunakan untuk menilai keaslian suatu warisan dunia, sehingga dengan adanya jejak Danau Borobudur dapat meningkatkan keaslian kompleks Candi Borobudur sebagai warisan budaya dunia.

Kompleks Candi Borobudur merupakan satu kesatuan antara Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut dan bentang alamnya. Ketiga candi yang berjejer memanjang dalam satu garis lurus (cenderung) ke arah timur barat ini tentunya juga ditempatkan berdasarkan konsepsi keagamaan tertentu. Dahulu diperkirakan umat Budha melakukan prosesi ritual dari Candi Mendut ke Candi Pawon dan berakhir di Candi Borobudur. Rangkaian perjalanan prosesi tersebut dapat dibayangkan seperti melewati lingkaran darat dan laut yang bergantian mengelilingi Gunung Meru sebagaimana digambarkan dalam kosmologi Budha.

Keberadaan Danau Borobudur memperkuat persamaan antara bentang alam Kompleks Candi Borobudur dengan kosmologi Budha. Danau Purba Borobudur tidak lain adalah representasi salah satu unsur alam semesta dalam konsep kosmologi Budha yaitu danau nirwana. Di lahan sekitar monumen ini telah ditemukan bukti-bukti arkeologis yang dapat membuktikan bahwa kawasan sekitar Borobudur pada masa pembangunan candi ini merupakan lahan kering, bukan dasar danau purba. Sementara itu, ahli geologi mendukung pandangan Nieuwenkamp dengan menunjukkan bukti adanya endapan sedimen lumpur di dekat situs ini. Kajian stratigrafi, analisis sampel sedimen dan serbuk sari yang dilakukan pada tahun 2000 mendukung keberadaan danau purba di lingkungan sekitar Borobudur, sehingga memperkuat gagasan Nieuwenkamp.

Bentang alam Borobudur
Lansekap pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Bentang Alam Pedesaan Borobudur

Menurut legenda di Jawa, merupakan daerah yang dikenal sebagai dataran Kedu ini, adalah tempat suci dalam kepercayaan masyarakat Jawa dan selalu dipuja-puja sebagai 'Taman Jawa' karena keelokan alamnya dan lahan tanahnya yang subur, serta keramahan kehidupan masyarakatnya.

Menyebutkan lanskap atau bentang alam pedesaan pada masa Jawa Kuna di kawasan Borobudur yang meliputi kawasan: pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah adat, salah satu yang dapat disebutkan adalah dalam pengolahan minuman, seperti dalam contoh adalah pengolahan minuman yang berasal dari tanaman tebu, yang dikenal juga oleh masyarakat Jawa Kuno sebagai bahan dasar dalam pembuatan minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhū. Siddhū atau sidhu adalah minuman yang disajikan pada acara-acara tertentu seperti dalam upacara pengukuhan sima, antara lain yang disebutkan dalam Prasasti Sangguran (928 M).

Pemandangan alam pedesaan pada masa Jawa Kuno di kawasan Borobudur yang meliputi wilayah: pegunungan dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah adat, yang salah satunya dapat disebutkan dalam penggambaran relief dalam cerita pembangunan rumah adalah bagaimana masyarakat berbondong-bondong membangun sebuah bangunan yang menggunakan bahan dari kayu. Ada yang membawa pasir, menaiki tangga, membawa barang, hingga memotong kayu. Berdasarkan data prasasti, orang-orang yang berprofesi membuat bangunan di antaranya, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang. Pemandangan pedesaan pada masa Jawa Kuna di kawasan Borobudur yang meliputi kawasan pemukiman dan rumah adat dapat disebutkan salah satunya pada penggambaran relief konstruksi rumah berdasarkan data prasasti, rumah pedesaan Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan berupa pemukiman adat dan rumah adat. Dengan kehidupan di lingkungan perumahan para pembuat gerabah seperti di Desa Nglipoh, Karanganyar.

Berdasarkan data prasasti, rumah desa Borobudur termasuk dalam bentuk bangunan yang berbentuk pemukiman adat. Permukiman pada masa Mataram Jawa Kuno era VII – X M dalam Prasasti RUKAM tahun 907 M disebutkan terbuat dari kayu. Menyebutkan kegiatan adat Jawa Kuno antara lain sebagai berikut: pembuatan gerabah yang dipahat pada relief candi Borobudur. Panel relief cerita tentang pembuatan gerabah terdapat pada dinding lorong dan langkan.

Relief cerita merupakan pengalihan naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni konkrit. Karena dimaksudkan sebagai gambaran suatu cerita, maka dalam relief tersebut terdapat susunan bentuk-bentuk tertentu yang mana seniman berusaha sedapat mungkin merefleksikan keadaan dan peristiwa yang terjadi dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu, dalam relief, penampakan tubuh tokoh-tokoh yang disebutkan dalam cerita beserta bentuk-bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan lain-lain) merupakan petunjuk situasi dan kondisi tempat terjadinya suatu peristiwa yang diharapkan.

Penjelasan relief beserta arti dan maknanya pada Candi Borobudur yang berkaitan dengan apa yang dijelaskan dalam bentuk prasasti dan naskah sastra pada masa Jawa Kuna dapat dikategorikan dalam beberapa hal, yaitu meliputi rekonstruksi proses kebudayaan, rekonstruksi sejarah kebudayaan, dan rekonstruksi cara hidup.

Lanskap / bentang alam pedesaan di kawasan Borobudur pada masa Jawa Kuno mempunyai kriteria dengan atribut yang meliputi wilayah seperti gunung dan perbukitan, lingkungan pertanian, pemukiman dan rumah tradisional, pembuatan gerabah, dan bekas danau purbakala. Relief Candi Borobudur dengan alat tafsir berupa prasasti dan teks sastra masa Jawa Kuna menjelaskan masyarakat pedesaan mempunyai ciri-ciri lanskap pedesaan pada masa Jawa Kuno, meliputi beberapa wilayah yang lebih spesifik pada wilayah yang berada pada lingkungan pertanian / pengelolaan lahan. Pada Candi Borobudur terdapat panel-panel relief yang menceritakan tentang relief pertanian, pada dinding Candi Borobudur.

Lingkungan pertanian pada masa Jawa Kuna meliputi persawahan seperti: Sawah, Sawah Pasang Surut, Sawah Tadah Hujan, Sawah/tegalan, Kebun dan Hutan. Dalam lingkungan pertanian Jawa Kuna yang berupa persawahan, dalam pengelolaannya dijelaskan bahwa masyarakat Jawa Kuna mengatakan bahwa sawah pada. abad IX-X Masehi tidak hanya dikelola untuk keperluan pribadi saja, melainkan juga untuk kebutuhan untuk mendukung bangunan suci yang ditunjuk sebagai sima. Disebutnya sawah sebagai sima karena sawah mampu memberikan kehidupan dan pendapatan pada suatu daerah. Menjelaskan makanan pokok pada zaman Jawa Kuno, dikatakan bahwa dalam lingkungan pertanian pada masa itu lebih banyak mengolah beras sebagai makanan pokok. Pada masa itu, masyarakat Jawa Kuno abad IX-X Masehi sudah mengenal cara-cara mengolah padi menjadi beras, antara lain dengan cara di-dang, di-tim, atau di-liwet. Skul dinyun adalah nasi yang ditutup dalam panci, dyun adalah panci atau kuali (panci) besar yang terbuat dari tanah liat yang digunakan untuk menanak sayur atau menanak nasi.

Pengolahan makanan dan pembuatan minuman pada masa Jawa Kuno meliputi beberapa bentuk. Pengolahan makanan seperti pengolahan Dodol. Dodol merupakan salah satu jenis makanan yang dikenal masyarakat Jawa Kuno pada abad IX-X Masehi. Beberapa jenis olahan disebut dwa-dwal atau dodol. Masakan ini disebutkan dalam Ramayana Jawa Kuno menurut penjelasan Poerbatjaraka. Dalam pengolahan minuman, contohnya adalah pengolahan tebu yang juga dikenal oleh masyarakat Jawa Kuno sebagai bahan dasar minuman beralkohol yang disebut tvak, siddhū. Siddhū atau sidhu merupakan minuman yang disajikan pada upacara pengukuhan sima, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Sangguran tahun 928 Masehi.

Salah satu gambaran relief yang terpahat pada dinding Borobudur adalah konstruksi rumah pedesaan dengan menggunakan bahan kayu. Relif Karmawibhangga sebenarnya yang menyimpan kisah pembangunan rumah pedesaan pada masa Jawa Kuno. Berdasarkan penjelasan pada prasasti tersebut, orang-orang yang berprofesi membuat bangunan antara lain, undahagi, undahagi dadap, kalang, tuha kalang. Rumah pedesaan masyarakat Borobudur pada masa Jawa Kuna disebutkan dalam bentuk bangunan yang terletak di kawasan pemukiman masyarakat adat dan berbentuk rumah adat. Dengan kehidupan di lingkungan perumahan komunitas pembuat gerabah/gerabah. Permukiman masyarakat Borobudur pada masa Mataram Jawa Kuno periode VII–X M disebutkan dalam Prasasti Rukam bertanggal 907 M. Menjelaskan secara umum kegiatan tradisional masyarakat Jawa Kuno yaitu membuat gerabah. Kegiatan ini diceritakan pada relief yang dipahat pada dinding Candi Borobudur.

Borobudur dilihat dari sudut barat laut pelataran. Stupa dengan perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci ini terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alami dataran Kedu. Dahulu kawasan sekitar Borobudur diperkirakan merupakan sebuah danau purba.Sejarah Borobudur, termasuk proses pembangunannya dan peran berbagai tokoh sejarah, membentuk lanskap budaya yang kaya akan nilai.Upaya pelestarian Candi Borobudur dan lingkungannya, baik oleh pemerintah maupun masyarakat, merupakan bagian penting dari lanskap sejarah.

Chandi Borobudur
Terdiri atas enam teras bujur sangkar, diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, dindingnya dihiasi oleh 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Terletak di Borobudur

Candi Borobudur merupakan candi yang berlatar belakang agama Budha dengan segudang keindahan, keunikan, dan seni rupa yang luar biasa. Konon, Candi Borobudur pada awalnya dibangun sebagai bangunan suci bagi umat Budha, Borobudur digunakan sebagai tempat peribadatan dan prosesi keagamaan dengan tujuan umat Budha untuk mencapai tingkatan tertinggi, yaitu nirwana.

Bangunan ini, memiliki seni arsitektur bertingkat yang sering disebut dengan punden berundak, yakni tempat pemujaan asli leluhur Indonesia, terdiri dari teras - teras berundak / bertingkat dan melingkar serta pada puncaknya terdapat stupa terbesar sebagai mahkota yang dikelilingi oleh stupa-stupa yang berlubang, sedangkan pada dindingnya dihiasi dengan rangkaian ukiran relief, serta terdapat arca Budha.

Candi Borobudur terletak di atas bukit pada dataran yang dikelilingi oleh gunung pasang gunung; Gunung Sundoro-Sumbing di sebelah barat laut dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utara terdapat Bukit Tidar, dan di sebelah selatan terdapat pegunungan Menoreh, serta terletak di dekat pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.

Sejarah keberadaan Candi Borobudur sebagai bangunan suci agama Budha dibangun oleh Wangsa Syailendra pada pemerintahan Samaratungga tahun 824 Masehi. Barabudur atau yang lebih dikenal dengan nama Borobudur merupakan candi suci umat Budha. Penyebutan nama Candi Borobudur, berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan umat Budha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari kata bahasa Bali 'beduhur', yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Jadi arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras bujur sangkar, dan tiga teras lingkaran, serta terdapat stupa terbesar di bagian tengah, dikelilingi oleh 72 stupa yang berlubang, serta dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Budha.

Candi Borobudur dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, perpaduan kebudayaan pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana. Bangunan ini merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam keinginan duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai dengan ajaran Budha.

Para peziarah masuk melalui sisi timur memulai ritual, dengan berjalan searah jarum jam, menaiki tangga melalui tiga tingkatan alam dalam ranah kosmologi Budha. Ketiga tingkatan ranah spiritual tersebut adalah Kamadhatu (alam keinginan), Rupadhatu (alam bentuk), dan Arupadhatu (alam ketiadaan bentuk). Peziarah berjalan melewati serangkaian lorong dan tangga, serta menyaksikan galeri panel relief yang diukir di dinding dan pagar langkan.

Borobudur dilihat dari sudut barat laut pelataran. Stupa dengan perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci ini terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alami dataran Kedu. Dahulu kawasan sekitar Borobudur diperkirakan merupakan sebuah danau purba.

Sejarah Borobudur, termasuk proses pembangunannya dan peran berbagai tokoh sejarah, membentuk lanskap budaya yang kaya akan nilai.

Nama Borobudur

Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno yang berasal dari masa sejarah nusantara biasa disebut dengan candi, apapun tujuan aslinya. Bangunan tersebut tidak hanya istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebutkan semua bangunan kuno yang berasal dari masa Hindu - Budha yang berada di Jawa, seperti gapura dan petirtaan (kolam dan pancuran).

Dalam sebagian besar penjelasan tentang candi, nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaannya. Sebagian besar warisan budaya leluhur ini harus ditemukan kembali keberadaannya. Tak heran jika candi-candi hanya disebut sebagai desa terdekat. Namun, beberapa masih mempertahankan nama-nama mereka, dalam penjelasan seperti itu, desa tersebut akan dinamai dengan candi. Sangat sulit untuk mengetahui apakah Candi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.

Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang sebuah monumen bernama Borobudur, namun tidak ada dokumen lama yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberikan petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Budha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.

Nama Borobudur berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa Sansekerta berarti “kuil”. Kata "beduhur" berarti "tinggi", dalam bahasa Bali.

Nama Bore-Budur yang kemudian ditulis BoroBudur kemungkinan besar ditulis oleh Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa yang paling dekat dengan candi yaitu desa Bore (Boro), sebagian besar candi sering diberi nama sesuai desa tempat candi tersebut berada. berdiri. Raffles juga menduga istilah 'Budur' mungkin ada kaitannya dengan istilah Jawa Buda yang berarti "kuno" – karenanya disebut "Boro kuno".

Namun, para arkeolog lain berpendapat bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang mencoba menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara yang berarti "gunung" (bhudara) yang di lerengnya terdapat berundak-undak. Selain itu masih ada beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalnya kata borobudur berasal dari kata “Budha” yang karena adanya pergeseran bunyi menjadi borobudur.

Penjelasan lainnya adalah nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, adapun penjelasan lain dimana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kompleks pura atau vihara dan beduhur berarti "tinggi", atau mengingatkan bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi yang dimaksud adalah vihara atau asrama yang letaknya di dataran tinggi.

Sejarawan J.G.de Casparis dalam disertasinya pada tahun 1950 mengemukakan bahwa Borobudur adalah tempat ibadah. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan bahwa pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi. Bangunan tersebut selesai dibangun pada masa putrinya yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan telah membutuhkan waktu setengah abad.

Prasasti Karangtengah juga menyebutkan pemberian tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Sri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan, sebuah bangunan suci yang disebut Bhumisambhara. Istilah Kamulan berasal dari kata mula yang berarti tempat asal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan nenek moyang dinasti Sailendra. Casparis memperkirakan Bhumi Sambhara Bhudhara dalam bahasa Sansekerta yang berarti "Bukit kumpulan kebajikan sepuluh tingkat boddhisattva" adalah nama asli Borobudur.

Borobudur dilihat dari sudut barat laut pelataran. Stupa dengan perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci ini terlupakan. Borobudur di tengah kehijauan alami dataran Kedu. Dahulu kawasan sekitar Borobudur diperkirakan merupakan sebuah danau purba.

Pelestarian Candi Borobudur

Menurut para arkeolog, Borobudur dibangun antara tahun 775 hingga 832 Masehi. Berdasarkan penelitian pada huruf/aksara Jawa Kuno yang pernah digunakan untuk menulis prasasti kerajaan, yang terpahat pada panel relief Karmawibhangga, Borobudur diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-9. Menurut J.G. de Casparis, seorang epigrafer asal Belanda, bangunan ini didirikan oleh seorang raja dari Dinasti Syailendra, yaitu Raja Samaratungga dan putrinya Pramodhawardhani. Pendapatnya tersebut didasarkan pada dua prasasti, yaitu Prasasti Karang Tengah dan Prasasti Sri Kahulunan. Candi Borobudur diketahui merupakan peninggalan sarana ritual agama Buddha, tepatnya gabungan ajaran Buddha Mahayana dan Tantrayana dengan meditasi filosofis Yogacara. Ajaran agama Budha tersebut konon mirip dengan ajaran yang berkembang di Benggala, India pada abad ke-8 pada masa pemerintahan raja-raja Pala.

Candi Borobudur ditemukan pada tahun 1814. Saat itu, Sir Thomas Stamford Raffles yang menjabat sebagai gubernur jenderal Inggris mendapat laporan tentang penemuan candi di Desa Bumisegoro, dekat Magelang. Insinyur Belanda H.C. Cornelius kemudian diperintahkan untuk menelitinya. Keberadaan Borobudur menarik minat sebagian besar orang Belanda untuk meneliti pasca penemuan Candi Borobudur. Pada tahun 1835, Hartmann memerintahkan anak buahnya untuk membersihkan candi. Ia menemukan arca Buddha yang belum rampung beserta artefak lainnya. Pada tahun 1885, J.W. Ijzerman membuka bagian dasar candi dan menemukan relief yang kemudian dikenal dengan nama relief Karmawibhangga yang berjumlah 160 panel.

Dijelaskan saat ditemukan, kondisi Candi Borobudur sudah terbengkalai dan sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, Van Erp melakukan pemugaran pada bagian-bagian candi yang berbentuk lingkaran, yaitu pada tingkat 7, 8, dan 9 pada tahun 1907. Pemugaran pertama ini adalah mengembalikan Borobudur ke kondisi semula dengan menyusun kembali stupa-stupa dan pemugaran selesai pada tahun 1911. Kondisi Candi Borobudur kembali rusak akibat proses alam. Bagian-bagian candi lainnya yang belum sempat ditangani oleh van Erp runtuh dan dinding-dindingnya miring. Melihat hal tersebut, UNESCO beserta lembaga lainnya menginisiasi pemugaran. Pemugaran Candi Borobudur yang kedua dipimpin oleh Prof. Dr. R. Soekmono dan dibantu oleh Ir. Rooseno untuk aspek konstruksi. Proyek pemugaran kedua berlangsung antara tahun 1973-1983. Peresmiannya dilakukan pada tanggal 23 Februari 1983 oleh Presiden Soeharto.

Secara dimensional Candi Borobudur memiliki bentuk bujur sangkar dengan ukuran sekitar 123 x 123 meter. Tinggi bangunan mencapai 42 meter dengan bagian atas puncak teratas chattra. Candi Borobudur terdiri dari 10 tingkat, enam tingkat berbentuk bujur sangkar dengan ukuran semakin atas semakin kecil, tiga teras berbentuk lingkaran, dan paling atas terdapat stupa besar. Adapun di bagian kakinya dapat ditemukan relief Karmawibhangga. Secara keseluruhan, Candi Borobudur berbentuk stupa yang memiliki struktur teras berundak. Warisan budaya ini memiliki susunan batu andesit yang disambung kuat dengan teknik pasak "ekor burung". Menurut W.F. Stutterheim, tingkatan Candi Borobudur dapat dibagi menjadi tiga sebagaimana konsep dhatu, yaitu tahapan yang harus dilalui untuk mencapai ke-Buddha-an. Ketiga tingkatan tersebut adalah, Kamadhatu
(alam duniawi), Rupadhatu (alam bentuk), Arupadhatu (alam tanpa bentuk).

Candi Borobudur telah terdaftar sebagai warisan budaya dunia, situs bersejarah ini bukanlah hanya sekedar status, akan tetapi keberadaannya lebih jauh membawa konsekuensi dalam pengelolaan yang lebih baik dimasa depan. Menyandang status sebagai warisan dunia menjadikan kelestarian Borobudur menjadi perhatian seluruh dunia. Salah satu upaya untuk pelestarian adalah dengan konservasi.
Pelestarian Candi Borobudur dilakukan melalui berbagai cara, seperti konservasi bangunan, pengelolaan pengunjung, peningkatan kesadaran masyarakat, dan pengawasan ketat. Konservasi rutin, termasuk pembersihan dan perbaikan, sangat penting untuk menjaga keutuhan struktur Candi Borobudur. Selain itu, pengelolaan pengunjung yang bijaksana, edukasi tentang nilai sejarah dan kebudayaan, serta pengawasan ketat terhadap perilaku pengunjung juga menjadi bagian penting dari upaya pelestarian.

Konservasi Candi Borobudur telah dimulai sejak pertama kali bangunan ini ditemukan dengan melakukan kegiatan pembersihan dan kemudian dilaksanakannya pemugaran oleh Pemerintah Hindia - Belanda, tepatnya pada tahun 1907-1911. Lokasi Candi Borobudur yang berada di alam terbuka dan dibangun di atas bukit sangat rentan terpengaruh oleh faktor lingkungan sekitar. Faktor cuaca dan iklim merupakan faktor alam yang dominan dapat menyebabkan kerusakan dan pelapukan terhadap batuan candi. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi keberadaan dan kelestarian bangunan ini. Selain faktor alam, faktor pengunjung dan pemanfaatan lainnya juga dapat menyebabkan kerusakan pada bangunan candi dan lingkungan sekitarnya. Apabila terjadi kerusakan pada bangunan cagar budaya tentunya sudah tidak akan pernah bisa diperbaharui lagi dan tidak bisa kembali seperti semula atau tidak bisa tergantikan.

Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Membaca lebih banyak tentang Candi Borobudur, jadikan wisata Anda lebih menyenangkan dan menarik. Membaca lebih menyenangkan dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam judul Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur

Sejarah menyebutkan bahwa Chandi Borobudur terletak tepat di atas sebuah bukit dan dibangun di tengah beberapa gunung dan perbukitan. Melihat ke arah barat terdapat Gunung Sundoro dan Gunung Sumbing. Di sebelah timur terdapat Gunung Merbabu dan Merapi. Melihat ke utara, kurang lebih 15 kilometer dari Borobudur terdapat bukit Tidar, dan di selatan dibatasi oleh perbukitan Menoreh. Borobudur terletak di pertemuan dua sungai yaitu Progo dan Elo yang terletak di sebelah timur Chandi Borobudur dan Chandi Pawon.

Selamat Datang di Chandi Borobudur.
Candi Budha Mahayana, dibangun abad ke-9 masa pemerintahan Dinasti Sailendra, dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia pemujaan leluhur dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Comments