Menjelajahi Keunikan Situs-Situs Purbakala Sekitar Borobudur


Keberadaan situs-situs kuno, umumnya berupa bangunan kuno yang disebut kuil, merupakan warisan budaya dan memiliki keragaman serta latar belakang yang unik dan menarik. Semua situs bersejarah yang ditemukan ini mewakili warisan yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Sebagai cara untuk menghargai dan menghormati warisan budaya, sangat penting untuk melindungi dan melestarikan situs-situs kuno ini, yang merupakan bagian dari warisan budaya leluhur kita.

Melindungi dan melestarikan situs-situs warisan budaya ini adalah cara untuk menghargai sejarah peradaban masa lalu dan menawarkan pengetahuan yang tak ternilai. Menjelajahi beberapa situs kuno di sekitar Borobudur terkait erat dengan peran Balai Konservasi Borobudur (BKB).

Jelajahi literatur sejarah tentang keberadaan candi dan situs kuno di kawasan Borobudur. Hal ini menunjukkan apresiasi dan partisipasi dalam melestarikan dan menjaga warisan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Situs dan candi tersebut beragam dan masing-masing memiliki karakteristik uniknya sendiri.

Ikuti wisata bersama Pamong Carita yang ramah, yang akan memberikan narasi dan penjelasan yang bermakna selama kunjungan Anda untuk menjelajahi sejarah dan seni arsitektur unik dari beberapa situs kuno yang ditemukan di sekitar area Borobudur.

Situs-Situs Purbakala


Kepulauan Indonesia terkenal dengan keragaman budaya dan warisan kunonya, khususnya pulau Jawa, yang memiliki situs arkeologi yang unik dan menakjubkan. Keragaman budaya ini mencakup berbagai periode sejarah, dari masa prasejarah hingga kerajaan-kerajaan besar seperti Majapahit. Setiap situs arkeologi memiliki satu kisah dan signifikansi tersendiri, yang mencerminkan suatu kehidupan dan peradaban di masa lalu.

Melindungi dan mempromosikan situs arkeologi adalah tanggung jawab kita untuk melestarikan warisan budaya yang berharga. Situs-situs ini adalah saksi bisu dari peradaban masa lalu dan akan berpotensi menjadi sumber pengetahuan yang tak ternilai. Lebih jauh lagi, dengan memperkenalkan situs arkeologi kepada masyarakat lokal dan wisatawan dapat meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai budaya kita dan dapat mendorong pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Stupa berterawang teras atas Arupadhatu
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Borobudur


Borobudur merupakan situs purbakala, warisan budaya dengan sejarah dan arsitektur yang unik dan mempesona, yang membuat semua takjub dengan kemegahan dan keindahannya. Bangunan megah ini telah resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia. Kemegahan dan keindahan arsitekturnya menjadikannya tujuan wisata utama, yang memiliki makna mulia dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia.

Candi Borobudur adalah cagar budaya peninggalan umat Budha yang ada di Jawa. Bangunan suci ini didirikan pada abad ke-8 oleh Dinasti Syailendra, sebagai tempat suci bagi umat Budha. Bangunan suci ini dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, perpaduan budaya asli pemujaan leluhur Indonesia dan konsep agama Budha untuk mencapai Nirvana. Borobudur merupakan simbol harmoni antara budaya Hindu dan Budha yang ada di Indonesia pada waktu itu.

Menyebutkan nama candi Borobudur, berasal dari dua kata yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat pemujaan bagi umat Buddha atau kuil, dan kata 'budur' berasal dari bahasa Bali 'beduhur' yang berarti 'di atas' atau 'bukit'. Maka makna kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena pergeseran bunyi menjadi Borobudur, yang artinya candi atau biara di atas bukit.

Bangunan yang megah ini merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri atas sembilan teras bertingkat, enam teras berbentuk bujur sangkar dan tiga teras berbentuk lingkaran, dan serta terdapat stupa terbesar yang berada ditengah, yang dikelilingi oleh 72 stupa berterawang, dan dihiasi dengan 2.672 panel relief dan 504 arca Budha.

Barabudur atau namanya lebih dikenal Borobudur, merupakan bangunan suci yang memiliki model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk memuliakan Budha sekaligus berfungsi sebagai tempat ziarah untuk menuntun umat manusia beralih dari alam nafsu duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Budha.

Para peziarah, melalui sisi timur mulai ritual, berjalan searah jarum jam, naik ke undakan melalui tiga tingkatan ranah dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan adalah Kamadhatu (ranah hawa nafsu), Rupadhatu (ranah berwujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud). Peziarah berjalan melalui serangkaian lorong dan tangga dengan menyaksikan 1.460 panel relief yang terukir pada dinding dan pagar langkan.

Menjelaskan terdapat keterkaitan antara Borobudur dengan tiga candi lainnya yaitu Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen. Beberapa penjelasan terkait dengan hal-hal seperti; ketiga candi mempunyai hubungan dengan Borobudur sebagai candi utama dalam sumbu khayalan. Ketiga candi tersebut mempunyai arah hadap dengan perbandingan arah sudut menghadap Borobudur. Ketiga bangunan tersebut mempunyai beberapa kesamaan dalam unsur arsitektur, arca Singa, pelipit bergerigi, relief-relief Jataka, dan arca Budha.

Arsitektur yang dimiliki Borobudur sangat mengagumkan dengan tingkat-tingkatnya yang terdiri dari tiga tingkat utama. Relief-relief terpahat pada dinding yang rumit dan indah menggambarkan berbagai arti dan makna dalam ajaran Budha, kehidupan sehari-hari, dan mitologi Hindu-Budha. Keindahan situs ini semakin bersinar saat matahari terbit atau terbenam, yang menciptakan suasana magis dan menakjubkan.

Selain menikmati keindahan arsitektur dan relief Borobudur, pengunjung dapat menjelajahi kompleks situs dengan berjalan kaki melalui koridor dan teras yang menghubungkan stupa-stupa. Kegiatan lainnya termasuk menghadiri festival budaya, atau menikmati pemandangan panorama dari puncak situs.

Menurut sejarah, Borobudur ditinggalkan dan terkubur pada abad ke-14 dan pertama kali ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Sejarah menunjukkan bahwa Borobudur, salah satu bangunan suci Budha, telah ditemukan kembali dan digunakan sebagai tempat ibadah, dan prosesi keagamaan bagi umat Budha sejak penemuannya kembali.

Borobudur dan kawasannya menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengenal Borobudur lebih dekat, sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur. Pemerintah telah menetapkan Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki daya tarik wisata dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Candi Borobudur
Candi Budha Mahayana terdiri atas sembilan teras bertingkat, enam teras bujur sangkar dan tiga teras lingkaran, terdapat stupa utama ditengah, dihiasi oleh 2.672 panel relief dan 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Candi Pawon

Candi Pawon terletak di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, tepatnya 1,75 km dari Candi Borobudur dan 1,15 km dari Candi Mendut. Candi Mendut terletak di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Candi Pawon dibangun antara abad ke-8 dan ke-9 pada masa kerajaan Mataram Kuna. Menurut Casparis, Candi Pawon merupakan tempat penyimpanan abu Raja Indra (782 - 812 M), ayah dari Raja Samarrattungga dari Dinasti Syailendra.

Candi Pawon
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Nama Candi Pawon tidak banyak disebutkan dan belum diketahui secara pasti asal usulnya. Menurut seorang epigrafer bernama J.G. de Casparis menafsirkan asal usul kata Pawon berasal dari kata Jawa “awu” yang berarti ‘abu’. Kata abu mempunyai awalan pa- dan akhiran -an, sehingga maknanya menunjukkan suatu tempat. Dalam bahasa Jawa sehari-hari kata pawon berarti 'dapur', namun de Casparis mengartikannya sebagai 'perabuan' atau tempat abu. Penduduk setempat juga menyebut Candi Pawon dengan nama Bajranalan. Kata ini mungkin berasal dari kata Sansekerta vajra yang berarti 'petir' dan anala yang berarti 'api'.

Pembangunan Candi Pawon diperkirakan terjadi sekitar pertengahan abad kedelapan, hampir bersamaan dengan pembangunan Candi Mendut dan Candi Borobudur. Menurut J.G. de Casparis, Candi Pawon merupakan tempat bersemayamnya Raja Indra yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 782-812 Masehi. Candi Pawon dipugar pada tahun 1903.

Melihat ke dalam bilik atau ruangan candi ini, tidak ditemukan lagi apa-apa sehingga sulit untuk mengidentifikasi lebih jauh tujuan dari candi ini. Satu hal menarik dari Candi Pawon yang masih bisa disaksikan adalah dekorasinya. Dinding luar candi dihiasi relief pohon hayati yaitu kalpataru yang diapit pundi-pundi dan kinara-kinari yaitu makhluk setengah manusia, setengah burung/berkepala manusia dan berbadan burung.

Candi Pawon terbuat dari batu andesit. Candi ini memiliki denah berbentuk bujur sangkar, dengan panjang sisi 10 m, dan memiliki tinggi 13,3 m. Bangunan candi menghadap ke barat, memiliki satu bilik dengan ukuran bilik 2,65 m x 2,64 m dan tinggi 5,20 m. Bentuk candi ini ramping, tidak seperti Borobudur yang kekar. Bangunan Candi Pawon secara arsitektur terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kaki, tubuh, dan atap candi. Kaki candi berbentuk batur dengan tinggi 1,5 m. Kaki candi ini dihiasi dengan banyak ornamen, seperti bunga dan tanaman merambat. Tubuh candi dihiasi dengan arca Bodhisattva, dan atap candi dihiasi dengan stupa.

Pintu masuk candi terletak di sebelah barat, undakan pintu masuk dihiasi dengan makara, dan pada ambang atas pintu masuk terdapat hiasan kala. Atap candi berbentuk persegi dan berhiaskan stupa-stupa kecil di setiap sisinya dan di bagian atas dihiasi stupa yang lebih besar. Pada dinding depan candi, di sebelah utara dan selatan pintu masuk, terdapat relung-relung yang berisi relief yang menggambarkan Kuwera (Dewa Kekayaan) dalam posisi berdiri. Ukiran-ukiran di sebelah selatan pintu telah rusak sehingga tidak terlihat lagi bentuk aslinya.

Pahatan di sebelah utara relief pintu masih utuh, hanya bagian kepala saja yang rusak. Pada dinding utara dan selatan candi terdapat relief yang sama, yaitu yang menggambarkan Kinara dan Kinari (makhluk setengah manusia setengah burung dengan kepala manusia, badan dan kaki burung) sedang berdiri mengapit pohon kalpataru yang tumbuh di dalam jambangan. Di sekeliling pohon tersebut terdapat beberapa kantong uang. Di bagian atas dinding juga terdapat sepasang jendela kecil yang berfungsi sebagai ventilasi. Di antara kedua lubang ventilasi tersebut terdapat pahatan kumuda. Relief pada Candi Pawon merupakan relief hiasan, tidak terdapat relief cerita pada candi ini.

Candi Mendut


Candi Mendut terletak di Desa Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Candi Mendut terletak sekitar 3 km dari Candi Borobudur. Seperti halnya Candi Borobudur, Candi Mendut merupakan candi Budha Mahayana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra, pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti Karang Tengah yang berangka tahun 824 M menyebutkan bahwa Raja Indra membangun sebuah bangunan suci yang disebut crimad venuvana yang berarti bangunan suci di dalam hutan bambu. Menurut J.G. de Casparis, kata ini dikaitkan dengan berdirinya Candi Mendut.

Candi Mendut.
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Dibangun sekitar abad VIII Masehi, berdasarkan prasasti Karangtengah. Candi Mendut didirikan pada masa pemerintahan Raja Indra dari Dinasti Syailendra. Disebutkan dalam prasasti Karangtengah bertanggal 824 M, dijelaskan bahwa Raja Indra telah membangun sebuah bangunan suci bernama Wenuwana yang artinya hutan bambu.

Candi Mendut menghadap ke arah barat laut dengan denah bangunan memiliki bentuk persegi panjang dengan satu bilik berukuran 24,15 m x 27,66 m dan tinggi 26,4 m. Pemugaran bangunan ini dilakukan pada tahun 1897 – 1904. Kemudian pada tahun 1908 pemugaran dilakukan oleh Theodore van Erp, dengan memasang kembali stupa diatap candi pada tahun 1925.

Bahan bangunan yang digunakan untuk membangun candi sebenarnya adalah batu bata yang dilapisi batu alam. Bangunan ini terletak di dataran tinggi sehingga terlihat lebih elegan dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap barat daya. Di atas dataran terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya setinggi tiga lantai dan dihiasi stupa-stupa kecil. Jumlah stupa kecil yang terpasang saat ini sebanyak 48.

Pada bagian kaki terdapat selasar atau jalan setapak untuk mengelilingi candi. Kaki bangunan ini dihiasi dengan ornamen berbentuk bunga-bunga, sedangkan bagian tubuh terpahat penuh dengan berbagai hiasan, berupa relief-relief binatang dan tanaman merambat.

Di sebelah kanan pintu masuk bilik candi terdapat relief Kuvera, yang digambarkan sebagai sosok laki-laki yang dikelilingi oleh anak-anak. Di bawah tempat duduk laki-laki tersebut terdapat kendi berisi uang. Kendi yang berisi uang merupakan salah satu atribut dari Dewa Kuvera yang disebut sebagai Dewa Kekayaan.

Di sebelah kiri pintu masuk bilik candi terdapat relief Hariti yang sedang duduk sambil menggendong anaknya. Dalam mitologi Budha, Hariti merupakan raksasa atau yaksha yang gemar memakan daging manusia, terutama anak-anak. Setelah Hariti bertemu dengan Budha, pada akhirnya bertobat dan kemudian berubah menjadi pelindung anak-anak serta sebagai Dewi Kesuburan.

Terdapat tiga arca utama di ruangan / garbhaghriya. Arca-arca tersebut adalah Sakyamuni, Awalokitecwara, dan Wajrapani. Jalan setapak menuju bilik candi pada ambang atas dihiasi kala dan makara pada sisi kanan dan kiri tangga masuk. Kala digambarkan berambut berbentuk tangkai daun berbentuk segitiga, cuping telinga bergaya menyerupai sumping, mata melotot, bola mata bulat ganda, hidung mancung, kumis tebal yang bagian atasnya menjorok ke bawah, pipi menonjol lebar ke kanan dan kiri, gigi pipih kecuali taring, dan tidak memiliki dagu. Makara digambarkan berwujud ikan dengan mulut menganga lebar, sehingga gigi atas dan bawahnya terlihat. Bibir atasnya melengkung seperti belalai gajah yang terangkat ke atas. Mata makara berbentuk sipit dan siripnya berbentuk tangkai daun. Di dalam bilik candi terdapat tiga arca Budha, yaitu arca Cakyamuni yang duduk bersila dalam posisi berkhotbah, arca Avalokitesvara sebagai bodhisattva yang menolong manusia, dan arca Maitreya sebagai bodhisattva yang membebaskan manusia di masa depan. Di atap candi Mendut terdapat 48 stupa kecil.

Relief-relief yang terdapat pada Candi Mendut menggambarkan Jataka yaitu cerita tentang binatang. Hewan-hewan yang tergambar pada panel relief merupakan titisan Bodhisattva yang turun ke bumi dan mengajarkan moralitas kepada manusia.

Candi Ngawen


Candi Ngawen merupakan candi Budha yang terletak sekitar 5 km di sebelah utara Candi Mendut, tepatnya di Desa Ngawen, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Bukti latar belakang agama Budha yang terdapat di Candi Ngawen adalah ditemukannya arca Dhyani Budha Ratnasambhawa di Candi II dan arca Dhyani Budha Amithaba di Candi IV. Berdasarkan gaya arsitektur bangunan, candi Ngawen dibangun sekitar abad ke-9 - 10 Masehi. Bentuk bangunannya memiliki ciri khas yang membedakannya dengan candi-candi lainnya. Yaitu dengan adanya hiasan patung singa di keempat sudutnya. Sekilas, bangunannya hampir mirip dengan bangunan candi Hindu karena bentuknya yang meruncing. Namun, jika diperhatikan dengan seksama, candi ini memiliki stupa dan teras (undakan) yang merupakan simbol-simbol di candi Budha.

Chandi NGawen
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto screenshot arisguide.

Candi Ngawen berlatar belakang agama Budha dengan adanya arca Dhyani Budha Ratnasambhawa di Candi II dan arca Dhyani Budha Amithaba di Candi IV. Candi ini didirikan abad IX – X Masehi. Terdapat hiasan patung singa di keempat sudutnya, serta candi ini memiliki stupa dan teras (undakan) yang menjadi simbol dalam candi Budha.

Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh penguasa Kerajaan Mataram Kuno dari dinasti Syailendra pada abad ke-8. Menurut Soekmono, keberadaan candi Ngawen kemungkinan besar merupakan bangunan suci yang disebutkan dalam Prasasti Karang Tengah tahun 824 Masehi, yaitu Venuvana (bahasa Sansekerta, yang berarti "hutan bambu"). Candi ini terdiri dari lima bangunan candi kecil, dua di antaranya memiliki bentuk yang berbeda yang dihiasi dengan patung singa di keempat sudutnya. Sebuah patung Budha tanpa kepala dengan posisi duduk Ratnasambawa tampaknya berada di salah satu candi lainnya.

Menurut perkiraan, candi ini dibangun oleh penguasa Kerajaan Mataram Kuno dari dinasti Sailendra pada abad ke-8. Menurut Soekmono, keberadaan Candi Ngawen kemungkinan besar merupakan bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti Karangtengah tahun 824 M, yaitu Venuvana dalam bahasa Sansekerta yang berarti “hutan bambu”.

Candi ini terdiri dari lima bangunan candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk berbeda dan dihiasi patung singa di keempat sudutnya. Patung Budha tanpa kepala dalam posisi duduk Ratnasambawa muncul di salah satu candi lainnya. Beberapa relief pada sisi candi yang masih cukup jelas terlihat antara lain ukiran Kinnara, Kinnari, dan kala-makara. Posisi hiasan Kinnara Kinnari mengapit Kalpataru. Kinnara dan Kinnari menggambarkan makhluk surgawi yang berwujud setengah manusia dan setengah burung. Sedangkan Kalpataru adalah pohon surgawi yang hidup sepanjang waktu, tempat bersandarnya segala harapan. Pohon ini digambarkan mempunyai dahan yang dimaknai sebagai untaian perhiasan yang indah, sehingga dijaga oleh makhluk surgawi seperti Kinara dan Kinari.

Salah satu proyek penelitian Candi Ngawen dilakukan oleh peneliti asal Belanda, Van Erp, yang memulainya pada tahun 1920. Ia memulai penggalian candi dengan mengeringkan sawah tempat candi pertama kali ditemukan. Kelompok candi terdiri dari lima bangunan yang disusun berdampingan dari Utara ke Selatan. Dari kelima bangunan tersebut, hanya satu candi yang masih utuh yaitu candi ke-2 dari arah utara, sedangkan empat candi lainnya hanya tersisa bagian kaki candi saja. Arsitektur candi terdiri atas 3 bagian, yaitu kaki candi, batang tubuh (badan) candi, dan atap candi. Bentuk dasar candi adalah 4 buah persegi panjang dengan ukuran antara 8,54 m x 10,84 m dan 12,88 x 15,89 m. Setiap candi mempunyai tangga masuk di sebelah timur.

Salah satu yang unik dari benda cagar budaya ini adalah hadirnya 4 buah patung singa di setiap sudut Candi II dan Candi IV. Kompleks candi terdiri dari 5 candi yang berjajar sejajar dari utara ke selatan. Bangunan Candi Ngawen semuanya menghadap ke timur. Berturut-turut dari arah selatan, Candi Ngawen I, II, III, IV dan V, masing-masing denahnya berbentuk bujur sangkar. Candi II dan IV mempunyai ukuran dan bentuk konstruksi yang sama.

Daya tarik lainnya terletak pada seni arsitektur candi ini yaitu ditemukannya patung singa penyangga keempat sisi bangunan candi yang berhasil direkonstruksi dari 5 bangunan yang sudah ada. Corak ukiran patung singa ini menyerupai lambang singa di Singapura dan berfungsi menyalurkan air hujan yang keluar melalui mulut patung. Dari lima candi yang ada di kompleks Candi Ngawen, hanya Candi II yang selesai pemugarannya pada tahun 1927. Sehingga komponennya paling lengkap. Empat kuil lainnya hanya tersisa warna Khaki. Dari semuanya, yang terparah adalah Candi I, hanya tinggal pondasinya saja.

Situs Purbakala Kawasan Borobudur


Penggalian arkeologi tentang situs-situs purbakala peninggalan cagar budaya yang dikelola oleh Balai Konservasi Borobudur, berada di sekitar kawasan Borobudur telah menemukan beberapa situs purbakala yang masuk dalam cagar budaya peninggalan masa Mataram Jawa Kuno, sekitar abad ke 8 - 9 Masehi. Menurut Balai Konservasi Borobudur, keberadaan situs-situs purbakala di kawasan sekitar Borobudur merupakan situs-situs cagar budaya peninggalan masa Hindu-Budha.

Menelusuri keberadaan situs-situs purbakala yang merupakan peradaban budaya berupa candi-candi bercorak Budha seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon dan Candi Ngawen. Selain itu juga ditemukan candi Hindu seperti Candi Lumbung, Candi Aso dan Candi Pendem. Situs-situs purbakala selain Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, dan Candi Ngawen, masih terdapat situs purbakala yang telah ditemukan, semuanya unik dan menarik, antara lain Situs Brongsongan, Situs Dipan, Situs Bowongan, Situs Samberan, Situs Plandi, dan Situs Kerkhoff Mendut.

Melihat keunikan situs purbakala dikawasan Borobudur dari penggalian dan penelitian oleh Balai Konservasi Borobudur adalah menjelaskan sebagai berikut;

Situs Plandi 


Situs Plandi merupakan salah satu situs yang terdapat di kawasan Borobudur. Situs bergaya religi Hindu dengan data arkeologi masa klasik, memiliki lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Peninggalan budaya berupa bangunan batu bata yang dikaitkan dengan Lingga-Yoni dan arca Hindu.

Pada tahun 2016, warga melaporkan adanya prasasti di dekat lokasi yoni. Prasasti ini berukuran tinggi 50 cm, lebar atas 38 cm, lebar bawah 41 cm, dan tebal 9,5 cm, bagian depan berisi 8 garis dan bagian belakang berisi lima garis yang sudah aus. Prasasti tersebut saat ini disimpan di kantor Balai Pelestarian Peninggalan Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Berdasarkan metode transkripsi dan transliterasi, prasasti ini menginformasikan peresmian sima berupa sawah yang diresmikan pada tanggal 30 November 869 M oleh Rakai Sirat atau Sirak dan guru pendeta candi.

Situs Plandi
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Menelusuri Situs Plandi tidak bisa dipisahkan dari keberadaan Candi Borobudur yang merupakan mandala di bagian selatan Kabupaten Magelang. Keberadaan situs ini menjadi bukti bahwa meskipun raja-raja dari Dinasti Syailendra berlatar belakang Budha yang berkuasa pada masa Kerajaan Mataram Kuno, hal ini tidak menjadi hambatan perkembangan agama Hindu di wilayah kekuasaannya. Bahkan, terdapat kehidupan keagamaan dalam hidup berdampingan. Keberadaan Situs Plandi menjadi salah satu objek pendukung bagi perkembangan sejarah budaya Hindu-Budha di Indonesia.

Berdasarkan dari hasil kajian tentang bangunan cagar budaya, keberadaan Situs Plandi merupakan representasi fisik dari sejarah perkembangan ilmu arkeologi dan konservasi di Indonesia. Hal ini termasuk di dalamnya merupakan perkembangan etika dan metode arkeologi dalam pelestarian peninggalan purbakala, khususnya di kawasan Borobudur.

Upaya pelestarian diawali dengan pembuatan dokumentasi oleh pemerintah Hindia Belanda melalui Komisi dan Dinas Purbakala, pelaksanaan Proyek Pemugaran Candi Borobudur oleh Pemerintah Indonesia, dan berbagai kajian oleh Pusat Arkeologi. Kini, Situs Plandi dikelola oleh Museum Candi Borobudur (dulu Balai Konservasi Borobudur).

Situs Plandi memiliki makna penting secara sosial budaya dan spiritual melalui pendekatan personal penduduk yang tinggal di sekitar situs tersebut. Situs ini juga menjadi penanda kenangan masa lalu dan bagian dari sejarah kehidupan pribadi, ruang komunal masyarakat, serta bukti keterlibatan masyarakat dalam pengembangan ilmu arkeologi di Indonesia.

Situs Plandi terletak sekitar 6 kilometer di sebelah utara Candi Borobudur. Dalam buku catatan Rapporten Van Den Oudheidkundigen Dienst In Nederlandcsh Indie 1914 Inventaris Der Hindoe Oudheden tercatat sebuah batu yoni berukuran yang sangat besar. Sementara itu, dalam survei JICA (Japan International Cooperation Agency) pada tahun 1978-1979 mencatat sebuah yoni dan pecahan-pecahan batu bata.

Yoni di Situs Plandi memiliki cerat yang menghadap ke utara dan berukuran 120 cm x 111 cm. Tingginya tidak diketahui karena sebagian yoni masih terpendam. Hiasan di bawah cerat berupa ukiran garuda terdapat pada punggung kura-kura. Bagian kiri (timur) bagian atas yoni sudah rusak dan hilang. Bagian belakang prasasti tersebut telah terkikis sehingga tidak dapat dibaca sebagai kata yang utuh.

Prasasti ini memberikan keterangan bahwa peresmian Sima berupa sawah telah diresmikan pada tanggal 30 November 869 M oleh Rakai Sirat atau Sirak dan guru pendeta candi. Tanah tempat Situs Plandi berada yang luasnya 150 meter persegi tersebut merupakan tanah milik negara dan bebas pajak. Situs ini terletak di Dusun Plandi, Desa Pasuruhan, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, dengan ketinggian 284 meter di atas permukaan laut.

Penemuan artefak berlatar belakang agama Hindu seperti yoni di situs ini menunjukkan bahwa situs ini merupakan situs dari masa klasik pada masa kejayaan agama Hindu-Budha pada abad ke-7 - 9 di wilayah yang sekarang menjadi Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Sebagai bangunan cagar budaya kuno, situs ini telah dilindungi oleh Undang-undang tentang Cagar Budaya. Kini Situs Plandi beserta lingkungannya telah ditata oleh Balai Konservasi Borobudur. Lahan tempat berdirinya yoni tersebut telah dipagari dengan besi, jalan masuk telah diaspal dengan paving block dan telah disediakan tempat parkir kendaraan pengunjung. Telah dibangun rumah pos jaga di sudut timur laut situs. Telah dibangun fasilitas toilet bagi pengunjung di sisi selatan jalan masuk menuju situs. Situs ini merupakan salah satu objek wisata budaya di Kabupaten Magelang.

Situs Dipan


Menyusuri Situs Dipan berada di kawasan yang ditumbuhi pepohonan di sisi-sisinya yang menjadi batas teritorial dan sejarah. Bangunan bersejarah itu bertumpuk dalam sebuah lubang persegi yang digali oleh para arkeolog. Saat ditemukan di sebuah ladang milik seorang warga, bangunan itu seperti harta karun dan bayi yang baru lahir, padahal bangunan itu sudah menjadi bagian dari peradaban ratusan tahun lalu. Kabar yang diyakini masyarakat setempat menunjukkan pemahaman yang sama, yakni Situs Dipan diambil dari seseorang yang bernama Dipa.

Situs ini terletak sekitar 3 km arah selatan Candi Borobudur, tepatnya di Dusun Ganjuran II, Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur. Riwayat temuan arkeologi di Situs Dipan adalah ditemukannya arca Mahakala yang terbuat dari terakota (gerabah tanah liat yang dibakar) tanpa sandaran dan asana (alas duduk). Arca tersebut disimpan di kantor Balai Pelestarian Budaya Daerah Jawa Tengah dan DIY yang dulunya bernama Balai Pelestarian Budaya Daerah Jawa Tengah dan DIY.

Situs Dipan merupakan salah satu situs yang terdapat di kawasan Borobudur. Sebuah situs keagamaan Budha dengan data arkeologi masa klasik, memiliki lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Tinggalan budaya berupa struktur batu bata yang dihubungkan dengan ornamen puncak berupa stupa dan patung Budha.

Situs Dipan
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Menurut peneliti di Museum dan Cagar Budaya Borobudur (MCB), pada saat penggalian di Situs Dipan juga ditemukan sebuah antefix (batu penjuru candi yang bermotif) yang terbuat dari terakota yang disimpan di Balai Konservasi Borobudur (sekarang MCB). Di lokasi situs di lahan yang sama juga ditemukan pecahan batu bata kuno dan batu andesit yang berbentuk kerucut dengan delapan sisi dan puncak yang terpotong. Selain itu juga ditemukan batu dengan ukiran berbentuk stupa.

Secara historis, keberadaan Situs Dipan telah tercatat dalam laporan Oudheidkundige Dienst atau Dinas Purbakala Hindia Belanda. Ada beberapa situs di sekitar Candi Borobudur seperti Candi Pawon, Candi Mendut, dan Situs Dipan yang telah diinventarisasi pada masa Kolonial Hindia Belanda sekitar tahun 1920-1930.

Penelitian tentang keberadaan Situs Dipan dilakukan sekitar tahun 1970, seiring dengan pemugaran Candi Borobudur yang dilakukan oleh peneliti Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta pada tahun 2000 hingga 2004. Ekskavasi arkeologi tersebut bertujuan untuk mengetahui latar belakang berdirinya candi bata. Dari penelitian tersebut berhasil ditemukan data tentang keberadaan bangunan bata kuno di area bangunan Situs Dipan. Bangunan tersebut memiliki panjang dan lebar sekitar lima meter dengan susunan batu bata sebanyak enam hingga tujuh lapis. Dengan ukuran ketebalan material batu bata kuno tersebut, yang menjadi ciri khas diindikasikan berasal dari masa yang sama dengan Candi Borobudur sekitar abad ke-8 hingga ke-10 Masehi.

Selanjutnya jika dilihat dari hasil temuan, susunan batu bata di Situs Dipan kemungkinan merupakan bangunan yang memiliki denah persegi, namun perlu dilakukan kajian lebih lanjut mengenai denah dan strukturnya. Hal ini dikarenakan ekskavasi yang dilakukan belum sampai pada lapisan tanah budaya Situs Dipan dan juga kondisi Situs Dipan yang sudah tidak utuh lagi di beberapa bagian.

Secara spesifik, perlindungan intensif dilakukan untuk melestarikan cagar budaya ini. Terdapat tiga tahapan pelestarian dalam regulasi tersebut, yakni perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Situs Dipan berada pada level perlindungan, sehingga masih perlu dilakukan pemagaran, pembuatan shelter, dan pemantauan struktur bata di Situs Dipan. Sementara itu, untuk status cagar budaya, Situs Dipan masuk dalam Situs Cagar Budaya Nasional dengan kriteria satu ruang geografis. Situs Dipan merupakan satu kesatuan dengan Candi Mendut, Borobudur, Pawon, dan Ngawen. Penetapan tersebut bersama sepuluh situs lainnya. Atas dasar penetapan tersebut, akan dilakukan eksplorasi dan kajian lanjutan pada tahun 2024. Dari kegiatan tersebut, dilakukan perlindungan berupa penyelamatan, diperkirakan di sekitar Situs Dipan masih terdapat bangunan lainnya.

Situs Brongsongan


Situs Brongsongan merupakan salah satu situs yang terdapat di kawasan Borobudur. Situs ini berlatar belakang atau bercorak agama Hindu dengan data arkeologi masa klasik, serta memiliki lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Peninggalan budaya berupa bangunan batu bata yang dikaitkan dengan Lingga-Yoni dan arca Hindu. Struktur batu bata kuna Situs Brongsongan merupakan struktur bata yang berkaitan dengan pemujaan Hindu pada sekitar abad 8-10 silam. Struktur bata kuna tersebut merupakan bagian dari bangunan pendukung untuk ritual Hindu yang dinamakan batu yoni.

Situs Brongsongan berada di Dusun Brongsongan, Desa Wringinputih, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu bukti kuat adanya peradaban agama Hindu. Lokasinya berada di sekitar candi-candi bercorak Budha yang pernah ada.

Dikatakan, salah satu bukti Situs Brongsongan bersifat Hindu dengan ditemukannya dua buah batu yoni yang berukuran lebih besar, yakni memiliki panjang dan lebar lebih dari satu meter. Pada batu yoni tersebut juga terdapat ornamen berupa naga, kura-kura, dan burung garuda yang menjadi ciri khas arsitektur.

Situs Brongsongan
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Selain dua buah batu yoni, di Situs Brongsongan  juga pernah ditemukan arca Siwa yang terpisah antara bagian tubuh dengan bagian kaki. Bagian tubuh arca Siwa tersebut ditemukan pada tahun 1973. Sedangkan, bagian kaki ditemukan pada tahun 2023.

Menurut sejarah Situs Brongsongan, merupakan situs yang berkaitan dengan pemujaan Dewa Siwa atau Hindhu Siwa. Situs Brongsongan berdasarkan laporan Dinas Purbakala  Belanda  sekitar tahun 900-an, bernama Sri Anom dan Situs Kranggan. Sedangkan, nama Brongsongan baru digunakan setelah situs tersebut ditetapkan sebagai bagian dari kawasan cagar budaya Borobudur.

Situs Bowongan


Situs Bowongan merupakan salah satu situs yang terdapat di kawasan Borobudur. Sebuah situs bergaya religi Hindu dengan data arkeologi masa itu;, memiliki lapisan budaya yang sezaman dengan Candi Borobudur. Peninggalan budaya berupa bangunan batu bata yang dikaitkan dengan Lingga-Yoni dan arca Hindu.

Situs Bowongan terletak di Dusun Bowongan, Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang. Situs ini merupakan Candi Banon (candi yang terbuat dari batu bata), lokasi situs berada di lahan pembuatan batu bata yang kondisinya rawan vandalisme.

Pondasi candi di dalam lubang pembuatan batu bata. Di situs ini terdapat 3 lubang galian, yang mana pada setiap galian masih terlihat batu-batu pondasi di dalamnya. Keberadaan situs di lokasi pembuatan batu bata tersebut memang sangat dikhawatirkan akan rusaknya batu-batu candi yang masih tersisa. Batu-batu candi di luar lubang galian juga masih banyak ditemukan, sebagian besar tergeletak di sekitar atau di pekarangan rumah warga.

Warga sekitar berdalih tidak berani mengambil batu bata kuno dari fondasinya, sebab jika salah dalam mengambil, batu tersebut akan hancur, sebab dalam kondisi yang lembab dan terpendam selama ratusan tahun. Batu candi di situs ini berupa batu bata yang ukurannya cukup besar, lebih besar dari batu bata pada umumnya, sekitar 3 kali lipat dari batu bata normal yang saat ini beredar di pasaran.

Dilihat dari lebar batu candi yang masih terlihat dari lubang galian, kemungkinan besar dulunya candi ini berukuran besar. Selain fondasi bangunan candi, bangunan yoni berjarak sekitar 50 meter dari lokasi bangunan candi. Bangunan yoni di situs bowongan berada di pekarangan rumah warga, kondisi yoni tersebut ceratnya sudah hilang dan pada badan yoni terdapat goresan akibat pernah dijadikan media mengasah benda tajam oleh warga sekitar.

Situs Bowongan
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Situs Samberan


Situs Samberan adalah satu satu situs yang berada dalam Kawasan Cagar Budaya Borobudur yang terletak di Dusun Samberan, Desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran, Magelang, Jawa Tengah. Diperkirakan Situs Samberan merupakan salah satu cagar budaya peninggalan kerajaan Mataram Kuno sekitar abad 7-10 M.

Penemuan yang menarik pada di Situs Samberan berupa bata kuno dan beberapa batu yoni. Bata kuno yang ditemukan berupa bata penyusun bagian sudut dari struktur fondasi bangunan situs. Struktur yang terlihat hanya di sudut tersebut, sedangkan bagian lainnya masih tertutup tanah. Pada struktur bata tersebut masih dijumpai adanya bata kulit atau bata yang menjadi lapisan luar sebuah candi. Temuan lain di Situs Samberan adalah beberapa batu yoni yang terletak di sekitar struktur bata. Salah satu temuan yoni, diletakkan di dekat rumah warga. Yoni tersebut sudah tidak utuh, hanya terdapat bagian kaki dan sebagian tubuhnya. Bagian atas dan ceratnya sudah tidak dijumpai ketika survei dilakukan. Dasar yoni berbentuk relatif persegi dengan ukuran 103 x 105 cm, sedangkan ukuran tubuhnya 67 x 63 cm, kemudian lubang di tengah tubuh yoni berbentuk persegi dengan ukuran 35 cm.

Yoni lain juga ditemukan di sekitar bangunan Masjid Samberan, berupa 2 yoni yang berbentuk persegi dengan posisi terkubur dan hanya nampak bagian atasnya saja. Yoni yang berada di tenggara masjid berbentuk persegi dengan ukuran panjang 97 cm, sedangkan ukuran bagian yang lain belum diketahui karena posisinya tertutup struktur masjid. Lubang di atas Yoni berukuran 35 x 37 cm dan kedalamannya belum diketahui. Yoni yang ada di timur laut juga berada dalam posisi sebagian tertutup tanah dan struktur lantai masjid. Pengukuran hanya dapat dilakukan dengan mengukur jarak antara tepian yoni dengan lubang yoni yang berbentuk persegi, yaitu sejauh 15 cm. Yoni yang berada di timurlaut sebagian besar tertutup struktur lantai masjid, hanya seperempat bagian yoni yang tampak dari permukaan.

Pada hasil survei lain yang diterbitkan tahun 2002, selain temuan struktur bata dan yoni, juga ditemukan 2 umpak di Situs Samberan. Umpak berbentuk bulat, kemungkinan sudah dilakukan modifikasi pada umpak tersebut dan digunakan untuk fondasi rumah oleh penduduk.

Situs Samberan
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Makam Belanda (Kerkhoff)


Kerkhoff Mendut merupakan situs cagar budaya yang terletak di sebelah timur Candi Borobudur, tepatnya di sebelah timur Candi Pawon dan masih berada dalam kawasan Borobudur. Keberadaan makam peninggalan masa Hindia Belanda ini tidak lepas dari keberadaan sekolah putri Katolik yang pernah berdiri di sebelah Candi Mendut. Keberadaan sekolah ini disebutkan oleh Groneman dalam bukunya yang berjudul Reruntuhan Candi Budha di Lembah Progo yang terbit pada tahun 1912. Sejarah berdirinya sekolah putri Katolik di Mendut merupakan prakarsa misi Jesuit di Pulau Jawa yang diusung. keluar oleh Pdt. Petrus Hoevenaars SJ dan Pdt. G.J.M. van Lith SJ. Makam tertua dengan prasasti tahun 1905 adalah makam Pastor Pioe Monoriae, kemungkinan berdasarkan masyarakat setempat menyebut makam Pastor Schraeders.

Situs Kerkhoff Mendut
Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Di Kawasan Cagar Budaya Borobudur, tidak hanya dapat ditemukan berbagai peninggalan sejarah dari masa Hindu-Budha, tetapi juga dari masa Kolonial, yaitu Kerkhoff Bojong di Mendut. Letak cagar budaya ini sangat unik, karena di antara berbagai cagar budaya yang berasal dari masa Hindu-Budha di Kawasan Borobudur, hanya Kerkhoff Bojong yang merupakan situs cagar budaya yang berasal dari masa Kolonial.

Makam Belanda (Kerkhoff) yang berada di Bojong, Magelang merupakan situs cagar budaya yang cukup unik dan menarik. Dalam bahasa Belanda Kerkhoff Bojong erat kaitannya dengan sekolah Katolik khusus perempuan yang dulunya berdiri di samping Candi Mendut. Groneman (1912) dalam bukunya “Reruntuhan Candi Budha di Lembah Progo” pernah menyebutkan tentang sekolah ini. Dalam penelitian sejarahnya, sekolah Katolik putri di Mendut didirikan oleh kaum Yesuit di Jawa oleh Romo Petrus Hoevenaars SJ dan Romo G.J.M. van Lith SJ. Lokasi sekolah sengaja dipilih di daerah pedesaan, dan bukan di daerah perkotaan, untuk menghindari konflik dengan ajaran Calvinisme (Kristen Protestan) yang lebih dianut sebagai agama resmi keluarga kerajaan Belanda, dan juga pernah menjalankan misi keagamaan di berbagai kota di Hindia Belanda.

Menyebutkan pada tahun 1904, Romo Hoevenaars dipindahtugaskan ke kota Cirebon dan kemudian digantikan oleh Romo Johannes Aloysius Schrader SJ (Steenbrink). Romo Schrader sendiri meninggal dunia pada tahun 1905 dan dimakamkan di Kerkhoff Mendut. Kerkhoff ini sangat unik karena posisi kepala jenazah berada di sebelah selatan, sedangkan biasanya kepala berada di sebelah utara. Pada masa kemerdekaan, sekolah putri Mendut mengalami kemunduran dan perlahan menghilang dari ingatan masyarakat karena bangunannya dirusak oleh warga saat Agresi Militer II tahun 1948. Karena bangunannya tidak dapat digunakan lagi, sehingga sekolah tersebut dipindahkan ke Ambarawa bersamaan dengan pemindahan makam tiga orang biarawati. Karena kerusakan tersebut, diadakan misa di Pendopo Paroki. Pada tahun 1955, dibangun Kapel Santo Paulus di depan lokasi sekolah putri Mendut yang kemudian menjadi Gereja Sapta Duka Bunda Maria. Sementara itu, lokasi sekolah putri Mendut kini telah dialihfungsikan menjadi Vihara Mendut dengan bagian selatan dimiliki oleh warga swasta.

Saat ini, Kerkhoff Mendut dikelola dan dirawat oleh pengurus pemakaman di bawah Paroki Borobudur. Misa pemakaman juga rutin diadakan pada minggu pertama bulan November. Selain itu, Seminari Mertoyudan juga menyelenggarakan misa pemakaman setiap tanggal 2 November secara bergiliran di dua tempat, yaitu di Kerkhoff Mendut dan di Kerkhoff Muntilan, sebagai penghormatan terhadap penyebaran agama Katolik melalui pendirian sekolah di kedua lokasi tersebut.

Makam Belanda (Kerkhoff) Bojong di Mendut merupakan jejak sejarah perkembangan bentang alam Borobudur sejak akhir abad ke-19 Masehi hingga saat ini, khususnya terkait dengan sejarah misi Jesuit di Pulau Jawa, perjuangan dan revolusi kemerdekaan Indonesia, serta perkembangan masyarakat Katolik di wilayah Magelang. R.P. Joh. Aloys. Schraeders S.J. yang merupakan pendeta kedua di Mendut juga dimakamkan di situs ini. Makam Belanda (Kerkhoff) Bojong di Mendut juga merupakan situs penting bagi kehidupan beragama Katolik di wilayah Magelang dan sekitarnya. Situs ini masih aktif digunakan bahkan dianggap sebagai 'cikal bakal' perkembangan agama Katolik di Magelang. Kerkhoff Bojong merupakan tempat ziarah yang diwujudkan dalam misa jenazah bagi masyarakat Katolik di Magelang maupun dari daerah lain di Indonesia. Makam Belanda (Kerkhoff) Bojong Mendut juga memiliki makna sosial budaya dan spiritual yang penting melalui kedekatan personal warga yang tinggal di sekitar situs tersebut, baik berupa penanda kenangan masa lalu, bagian sejarah kehidupan pribadi, ruang komunal masyarakat, maupun bukti keterlibatan masyarakat dalam pengembangan ilmu arkeologi di Indonesia.

Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur, dan mendapatkan bacaan yang lebih mudah dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments