Menelusuri Catatan Sejarah Prasasti Dalam Pendirian Candi Borobudur


Keberadaan candi - candi di Indonesia, khususnya bangunan - bangunan kuno di Jawa, menawarkan keragaman dan sejarah yang unik dan mempesona. Penelitian terhadap situs-situs cagar budaya yang telah ditemukan mewakili warisan budaya yang ditinggalkan oleh leluhur kita. Melestarikan situs warisan budaya adalah cara untuk menghargai sejarah peradaban masa lalu sebagai sumber pengetahuan yang tak ternilai.

Candi Borobudur adalah situs warisan budaya, salah satu bangunan suci Budha yang diwarisi dari Dinasti Sailendra di Jawa. Kemegahan dan keindahan Borobudur, merupakan satu destinasi wisata utama, menjadikannya Situs Warisan Dunia, yang memiliki makna mendalam dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia. Menjelajahi sejarah awal Borobudur dan sekitarnya adalah pengalaman yang unik, dan peran Balai Konservasi Borobudur tidak terlepas dari hal tersebut.

Menelusuri lebih lanjut sejarah awal keberadaan Candi Borobudur melalui prasasti sebagai sumber penjelasan utama benar-benar unik. Ini adalah kesempatan untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah pembangunan Borobudur, sebagai cara untuk melestarikan dan melindungi situs-situs kuno yang merupakan bagian dari warisan budaya leluhur kita.

Tulisan atau aksara Kuno
Sansekerta pada umumnya,
 jenis tulisan aksara salah satunya yang ada pada prasasti kerajaan abad ke–8 dan ke–9. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Lebih Dikenal Borobudur

Candi Borobudur sebagai bangunan berlatar belakang agama Budha memiliki segudang keindahan dan keunikan seni rupa yang luar biasa. Borobudur dan kawasannya sangat menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengenal bangunan ini lebih jauh, menelusuri sejarah sebagai wujud apresiasi dan ikut berpartisipasi dalam melestarikan warisan budaya leluhur. Pemerintah telah menetapkan Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki daya tarik wisata dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur
Candi Budha Mahayana, dibangun abad ke-9, masa pemerintahan Wangsa Sailendra, dirancang dengan arsitektur Budha Jawa, perpaduan budaya asli pemujaan leluhur dan konsep agama Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Borobudur merupakan simbol keharmonisan antara budaya Hindu dan Budha yang ada di Indonesia pada masa itu. Kemegahan dan keindahan bangunan ini tercermin dalam gaya seni arsitektur piramida berundak yang umum disebut punden berundak kebudayaan pemujaan leluhur asli Indonesia. Candi Borobudur memiliki bentuk arsitektur unik yang terdiri dari berundak-undak yang berjumlah enam buah teras berbentuk bujur sangkar dan pada bagian atasnya terdapat tiga buah pelataran berbentuk lingkaran, pada bagian atasnya terdapat stupa besar sebagai mahkota yang dikelilingi oleh 72 buah stupa yang berlubang, sedangkan bagian dindingnya dihiasi dengan ukiran batu yang indah dengan total 2.672 panel relief dan bangunan ini memiliki 504 patung Budha.

Kemegahan arsitektur Borobudur yang sangat mengagumkan merupakan perpaduan bentuk stupa dengan seni ukiran relief pada dinding serta tingkat-tingkatnya yang terdiri dari tiga platform utama sesuai arti dan makna filosofi Budha. Relief-relief terpahat di dinding yang rumit dan indah menggambarkan ajaran-ajaran Budha, kehidupan sehari-hari, dan mitologi dalam kebudayaan Hindu-Budha.

Lansekap Borobudur
Lansekap Pedesaan Jawa Kuno. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Selain menikmati keindahan arsitektur dan relief Borobudur, pengunjung dapat menjelajahi kompleks situs dengan berjalan kaki melalui koridor dan teras yang menghubungkan stupa-stupa. Kegiatan lainnya termasuk menghadiri festival budaya, atau menikmati pemandangan panorama dari puncak situs. Keindahan situs ini semakin bersinar saat matahari terbit atau terbenam, menciptakan suasana magis dan menakjubkan.

Candi Borobudur

Menjelajahi Pulau Jawa, terdapat banyak ditemukan situs purbakala peninggalan masa lalu. Salah satu yang terbesar adalah Candi Borobudur, tempat suci umat Budha peninggalan Wangsa Sailendra abad ke-9 Masehi. Borobudur merupakan bangunan berlatar belakang agama Budha yang memiliki keindahan dan keunikan seni rupa yang menarik dan mengagumkan.

Secara administratif Candi Borobudur terletak di Desa Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Candi Borobudur terletak di atas bukit di dataran yang dikelilingi oleh gunung dan perbukitan; Gunung Sundoro-Sumbing di barat laut dan Merbabu-Merapi di timur laut, di utara terdapat Bukit Tidar, dan di selatan terdapat pegunungan Menoreh, serta terletak di dekat pertemuan dua sungai; Progo dan Sungai Elo yang berada di sebelah timur.

Barabudur atau lebih dikenal sebagai Borobudur merupakan candi suci umat Budha. Menyebutkan nama Candi Borobudur, berasal dari dua kata, yaitu kata 'bara' berasal dari kata 'biara' yang berarti tempat peribadatan umat Budha atau pura, dan kata 'budur' berasal dari kata Bali 'beduhur'. yang artinya 'di atas' atau 'bukit'. Maka arti kata 'biara dan beduhur' berubah menjadi Bara Budur, karena bunyinya bergeser menjadi Borobudur yang berarti candi atau biara di atas bukit.

Candi Borobudur dibangun pada abad ke 9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan arsitektur Budha Jawa yang memadukan budaya pemujaan leluhur asli Indonesia dan konsep Budha untuk mencapai Nirwana. Borobudur merupakan candi Budha Mahayana yang terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, serta terdapat stupa terbesar di tengahnya, yang dikelilingi oleh 72 stupa yang saling bertautan, serta dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Budha.

Dalam ranah spiritual Borobudur merupakan model alam semesta dan dibangun sebagai tempat suci untuk mengagungkan Budha. Bangunan suci ini memiliki fungsi sebagai tempat untuk ziarah umat Budha beralih dari alam keinginan duniawi menuju pencerahan dan kebijaksanaan sesuai dengan ajaran Budha. Para peziarah, melalui sisi timur memulai ritual, berjalan searah jarum jam, melewati serangkaian lorong dan koridor, menaiki tangga melalui tiga tingkat alam dalam kosmologi Budha. Ketiga tingkatan tersebut adalah Kamadhatu (ranah nafsu), Rupadhatu (ranah wujud), dan Arupadhatu (ranah tak berwujud).



Menurut sejarah, keberadaan Borobudur pernah terlupakan dan ditinggalkan serta terkubur di dalam tanah selama beberapa abad, oleh para pemeluk agama Budha. Candi Borobudur mulai mendapat perhatian, sejak pertama kali ditemukan kembali oleh Sir Thomas Stamfort Rafles, yang menjabat sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Jawa. Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya berdekatan dengan dua candi Budha lainnya, yaitu Candi Pawon dan Candi Mendut. Pada 1991, Candi Borobudur ditetapkan sebagai warisan budaya dunia (World Cultural Heritage) oleh UNESCO.


Sejarah Candi Borobudur

Keberadaan situs-situs purbakala yang ada di Jawa pada umumnya disebut dengan candi. Berbagai candi-candi sebagai bangunan kuno yang banyak ditemukan memiliki keragaman dan latar belakang yang sangat unik dan menarik. Situs/candi bersejarah yang telah dibangun, semuanya merupakan warisan budaya yang pernah melekat dalam kehidupan dan ditinggalkan oleh para leluhur.

Sebagai salah satu bentuk apresiasi dalam mempelajari dan menghargai warisan budaya, keberadaan sejarah situs/candi tersebut sangat penting dan menjadi pengetahuan serta menjadi bagian dari kekayaan budaya para leluhur. Menelusuri sejarah masa lalu Candi Borobudur sebagai salah satu warisan budaya merupakan wujud apresiasi dalam mengenal sejarah peninggalan cagar budaya masa lalu, serta keberadaannya memiliki sumber pengetahuan yang tak ternilai.

Sejarah Awal Borobudur

Menjelaskan Candi Borobudur, tentang sejarah awal dan tujuan pembangunan, tidak disebutkan secara rinci, akan tetapi bangunan ini merupakan tempat suci bagi umat Budha, yang digunakan sebagai bangunan pemujaan dan prosesi keagamaan di masa lalu. Keberadaan Borobudur sebagai tempat peribadatan, dalam pembangunannya membutuhkan waktu kurang lebih 100 tahun, yang diselesaikan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga, tahun 824 M. Kurun waktu antara tahun 760 sampai 830 M, merupakan puncak kejayaan Wangsa Syailendra di Jawa yang ada keterkaitan dengan pemerintahan Kerajaan Sriwijaya.

Meskipun tidak ditemukan dokumen pasti mengenai kapan Candi Borobudur dibangun, namun para arkeolog sepakat bahwa masa pembangunan Borobudur sekitar tahun 775 - 832 M. Berdasarkan penelitian pada salah satu tulisan aksara Jawa Kuno yang pernah digunakan dalam penulisan prasasti-prasasti kerajaan masa itu, ditemukan tulisan/aksara terpahat pada dinding relief Karmawibhangga, sehingga memperkirakan Borobudur dibangun sejak abad ke-9.

Menurut J.G. de Casparis, ahli epigraf dari Belanda, menjelaskan tentang Borobudur dibangun oleh seorang raja dari Wangsa Sailendra, yaitu Raja Samaratungga dan putri mahkotanya Pramodhawardhani. Pendapat tersebut berdasarkan pada ditemukannya dua prasasti, yaitu Prasasti Karang Tengah dan Prasasti Sri Kahulunan. Candi Borobudur dikenal sebagai peninggalan tempat dan sarana ritual bagi agama Budha, tepatnya merupakan perpaduan ajaran Budha aliran Mahayana dan Tantrayana, artinya meditasi filosofis Yogacara. Ajaran Budha ini dikatakan memiliki kesamaan dengan ajaran yang pernah berkembang di Benggala, India pada abad ke-8 masa pemerintahan Raja Pala.

Dokumen tertulis tentang awal mula pembangunan Borobudur sebagaimana tercantum dalam beberapa prasasti atau tulisan yang terpahat pada batu tulis dan pada dinding relief di kaki tersembunyi Borobudur, mempunyai ciri-ciri grafis serupa dengan yang ada pada aksara atau bentuk tulisan yang biasa digunakan pada prasasti-prasasti kerajaan yang dibuat antara abad kedelapan dan abad kesembilan.

Kesimpulan jelasnya, Candi Borobudur kemungkinan besar didirikan sekitar tahun 800 Masehi. Anggapan tersebut cukup sesuai dengan sejarah Indonesia pada umumnya dan sejarah Jawa Tengah pada khususnya. Periode antara tahun 750 – 850 konon merupakan masa keemasan Wangsa Syailendra. Hal ini mendorong banyak bangunan suci yang ditemukan dan dibangun hampir di seluruh dataran dan lereng gunung. Bangunan Siwa mendominasi daerah pegunungan, yaitu daerah dataran Kedu dan Prambanan, sehingga dapat dikatakan bangunan Siwa maupun Budha didirikan saling berdekatan.

Nama Syailendra pertama kali muncul pada sebuah prasasti batu tulis yang ditemukan di Sojomerto di kawasan pesisir barat laut Jawa Tengah yang kemudian disebut prasasti Sojomerto. Prasasti Sojomerto tidak bertanggal, tetapi berdasarkan paleografi, prasasti tersebut diperkirakan berasal dari pertengahan abad ketujuh. Prasasti tertua yang tidak hanya terdapat di Jawa Tengah, namun hampir di seluruh Indonesia, seperti yang terdapat pada prasasti Canggal, dikeluarkan oleh Raja Sanjaya pada tahun 732 Masehi. Konon prasasti ini dimaksudkan untuk memperingati berdirinya tempat suci Siva Lingga di bukit Gunung Ukir, kurang lebih 10 km sebelah timur Candi Borobudur.

Nama Sanjaya kemudian muncul kembali dalam prasasti Mantyasih bertanggal 907 M yang ditemukan kurang lebih 15 km sebelah utara Candi Borobudur. Prasasti Mantyasih hanya memuat daftar raja-raja sebelum Raja Balitung yang memerintah (yang mengeluarkan prasasti). Prasasti yang memuat daftar raja-raja yang berkuasa ini secara eksplisit diduga berasal dari Wangsa Syailendra. Bahkan masih diragukan apakah Rakai Panangkaran sebenarnya adalah raja Syailendra yang membangun Candi Tara di Desa Kalasan. Wangsa Syailendra dikenal sebagai penganut setia agama Budha, namun Wangsa Syailendra dalam prasasti Sojomerto dikatakan beragama Hindu. Dalam prasasti Mantyasih juga disebutkan bahwa beragama Hindu.

Oleh karena itu, dapat dijelaskan bahwa raja-raja yang disebutkan dalam prasasti tersebut semuanya beragama Hindu. Menurut teori ini, Rakai Panangkaran merupakan seorang raja dari Wangsa Sanjaya yang memiliki peranan dalam mendirikan Candi Budha Kalasan, yang sebenarnya hanya sekedar menyediakan sebidang tanah yang diperlukan untuk pembangunan candi tersebut; belum tentu beragama Budha. Dalam hal ini, agama tidak menjadi perbedaan atau konflik yang serius di Indonesia. Oleh karena itu, sangat mungkin seorang raja yang beragama Hindu berperan dan mendukung pembangunan candi Budha, atau sebaliknya seorang raja yang beragama Budha melakukan hal yang sama.

Anggapan bahwa hanya ada satu dinasti kerajaan yang memerintah Jawa Tengah pada masa itu pada abad ke delapan hingga awal abad ke sepuluh, secara langsung menghilangkan anggapan terkait asal usul Wangsa Sailendra dan seberapa luas wilayah kerajaan tersebut di Jawa Tengah. Karena Laut Jawa merupakan jalur termudah menuju Jawa Tengah, maka diharapkan mereka bisa menetap dan berperan aktif di wilayah utara. Namun hal ini sulit dipastikan mengingat Wangsa Sailendra muncul di dalam sejarah berada di bagian selatan Jawa Tengah, sedangkan Wangsa Sanjaya sebelumnya menguasai dan memiliki wilayah yang lebih jauh ke utara.

Peran masyarakat Indonesia dalam proses ini nampaknya tidak hanya sebatas mengadopsi dan mencerna unsur budaya India saja, namun juga melibatkan budaya aslinya. Asumsi adanya kontak yang terus menerus, atau setidaknya teratur, akan sangat membantu menjelaskan kemunculan kerajaan-kerajaan tertua di berbagai wilayah di kawasan tersebut.

Namun, keterlibatan nenek moyang pribumi dalam silsilah raja yang berkuasa, yang mengeluarkan prasasti tersebut, hanya dapat dilihat sebagai cerminan transisi kekuasaan yang mulus; karena tidak dapat dibayangkan bahwa kerajaan-kerajaan ini dapat muncul tanpa periode akulturasi yang cukup lama. Kenyataannya, prasasti-prasasti tersebut, yang disusun dalam bahasa Sansekerta yang sempurna, tidak akan masuk akal bagi orang-orang yang menerima prasasti tersebut kecuali mereka sudah memahami bahasa yang sangat asing ini, yang sekarang digunakan dalam berbagai dokumen resmi.

Sejarah awal Indonesia dapat ditandai dengan bangkitnya dan berakhirnya secara tiba-tiba dari kerajaan-kerajaan tertuanya. Seperti Kerajaan Kutai yang ada di Kalimantan dan Kerajaan Tarumanagara di Jawa Barat pada abad kelima, masing-masing mempunyai titah kerajaan yang dikeluarkan oleh seorang raja. Keberadaan Kerajaan Kanjuruhan di Jawa Timur diketahui berasal dari satu dokumen yaitu Prasasti Dinoyo tahun 760 Masehi. Aliran dokumen tertulis yang kurang lebih terus menerus terdapat di Jawa Tengah, yang dimulai dengan prasasti Canggal tahun 732 M dan diakhiri dengan prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Balitung pada awal abad kesepuluh.

Periode pertengahan abad ke-10 hingga akhir abad ke-15 dikenal dengan masa Jawa Timur. Meskipun Sumatera dan Bali juga banyak berkontribusi dalam pembentukan awal sejarah Indonesia, sebagian besar peristiwa tersebut didokumentasikan dalam beberapa prasasti dan manuskrip Jawa Timur. Berbagai bangunan juga terkonsentrasi di Jawa Timur, sehingga Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi istilah umum dalam menyikapi bangunan candi yang tertulis dalam karya sastra.

Prasasti Borobudur

Sebagian besar ahli sejarah banyak yang mengemukakan teori tentang awal mula sejarah peradaban budaya Jawa Kuno dan awal mula dibangunnya Borobudur, khususnya pada masa Hindu dan Budha. Kebudayaan India yang masuk ke Indonesia memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan beragama dan menjadi latar belakang keberadaan kerajaan-kerajaan yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu.

Penelitian sejarah terhadap prasasti-prasasti Jawa kuno yang ditemukan, pada umumnya digunakan sebagai penjelasan sejarah dan narasi tentang keberadaan suatu bangunan atau candi kuno. Sebagian besar penemuan prasasti pada masa Jawa kuno digunakan sebagai sumber penjelasan dan narasi sejarah secara umum. Keberadaan prasasti-prasasti tersebut biasanya dipahat atau ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, meskipun ada juga yang ditulis dalam bahasa lain seperti bahasa Melayu Kuno, dan diketahui bahwa sebagian prasasti yang ditemukan berada di sekitar kawasan Borobudur.

Melihat sejarah dalam menjelaskan prasasti sebagai sumber utama penjelasan, keberadaan beberapa prasasti yang ditemukan sekitar abad ke-6 – 10 Masehi pada masa Mataram Kuno di Jawa Tengah, umumnya terbuat dari batu atau logam, dengan bahan yang digunakan awet dan tahan lama. Sebagian besar prasasti ditulis dalam bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno. Ada pula yang ditulis dalam huruf Palawa dan Melayu Kuno.

Dalam menjelaskan prasasti atau batu tulis yang umum digunakan memiliki tiga bagian. Bagian pertama prasasti berisi tentang penanggalan dan pujian kepada para dewa atau raja. Bagian kedua prasasti adalah isi, yaitu bagian utama prasasti yang berisi tentang maksud dan tujuan dibuatnya prasasti, dan secara umum isi prasasti adalah tentang peresmian, persawahan atau tanah sima, dan juga hal-hal di dalamnya yang berhubungan dengan keadilan. Sedangkan bagian ketiga adalah penutup, dan bagian ini pada dasarnya membahas tentang hal-hal seperti peringatan dengan berbagai kutukan, atau tentang pujian kepada raja atau dewa.

Menurut dokumen sejarah penemuan prasasti di Jawa disebutkan bahwa beberapa prasasti yang ditemukan terbuat dari batu dan dalam kondisi baik serta masih dapat dipahami isinya. Beberapa prasasti tentang keberadaan Borobudur antara lain sebagai berikut;

Terdapat dua prasasti keberadaan Candi Borobudur, yang menjelaskan awal pembangunan bangunan suci ini, yaitu Prasasti Karang Tengah dan Sri Kahulunan. Menyebutkan bangunan ini dalam Prasasti Karang Tengah dan Prasasti Sri Kahulunan, tertulis “Bhumi Sambhara Budhara” dan “Kamulan” yang keduanya merupakan arti dari nama Borobudur, dan candi ini dibangun antara tahun 760 hingga 830 Masehi, yaitu pada masa puncak kejayaan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah. Sebagian besar wilayah Pulau Jawa masih sangat dipengaruhi oleh Kerajaan Sriwijaya. Pendirian Candi Borobudur kurang lebih membutuhkan waktu 100 tahun dan bangunan ini dirampungkan oleh pemerintahan Raja Samaratungga pada tahun 825 Masehi.

Borobudur disebutkan yang pertama dalam prasasti Karang Tengah atau Kayuwungunan. Prasasti ini berangka tahun 824 M, sebagaimana dijelaskan dalam riwayat sejarah, bahwa prasasti ini ditemukan di Dusun Karang Tengah. Prasasti Karang Tengah terdiri dari dua bagian, bagian pertama ditulis dalam bahasa Sansekerta dan bagian kedua dalam bahasa Jawa Kuno, namun baris terakhir belum menjadi baris penutup, karena belum diketahui isi prasasti tersebut, satu bagian dari prasasti tersebut yaitu pecahan batu di bagian bawah hilang.

Dalam prasasti bagian yang pertama berbahasa Sansekerta, menjelaskan informasi tentang Samaratungga yaitu sebagai permata Wangsa Sailendra dan menyebutkan putrinya yang bernama Pramodawardhani yang berjasa dalam pembangunan candi Budha. Uraian prasasti tersebut bertanggal 824 M, sehingga berkaitan erat dengan pendirian patung, kemungkinan besar terbuat dari perunggu, karena konon bersinar seperti bagian bulan, di candi yang dipersembahkan untuk patung tersebut.

Selain itu, prasasti tersebut juga memuat harapan agar mereka yang berjasa mendirikan vihara Budha tersebut akan mendapat pahala karena telah mencapai tribulasi kesepuluh, yakni menjadi Budha. Bagian penutupnya merupakan ajakan kepada keturunan untuk menabung demi keberlangsungan bangunan suci ini. Prasasti Jawa Kuno bagian kedua bertanggal 824 M memuat penetapan hibah berupa sejumlah sima atau sawah yang diperuntukkan bagi kelangsungan bangunan suci beserta rincian tanahnya. Bagian penutup prasasti ini telah hilang sehingga kata-kata terakhirnya tidak banyak diketahui.

Sementara terkait pendirian patung perunggu di sebuah candi, menurut De Casparis, ia meyakini patung tersebut tak lain adalah patung Raja Indra yang wafat dan menguburkan abunya di kuil yang khusus diperuntukkan baginya. Raja Indra merupakan salah satu raja berasal dari Wangsa Sailendra yang menerbitkan prasasti Kelurak berangka tahun 782 M. Menurut De Casparis, prasasti Kayumwungan dimaksudkan untuk memperingati berdirinya dan dibangunnya beberapa candi-candi seperti Borobudur, Pawon dan Mendut oleh Samaratungga.

Prasasti Tri Tepusan atau disebut juga Sri Kahulunan, berangka tahun 842 Masehi, merupakan prasasti yang kedua dan menyebutkan tentang berdirinya Candi Borobudur. Menurut penjelasan dalam Prasasti Tri Tepusan / Sri Kahulunan, disebutkan bahwa Sri Kahulunan ialah Pramodawardhani yang sebenarnya telah berjasa dalam menyediakan dan menghibahkan tanah perdikan (tanah bebas pajak) untuk pemeliharaan bangunan suci bernama " Kamul ni Bhumi Sambhara ", artinya melambangkan tempat berkumpulnya segala kebajikan umat Budha, yaitu bangunan suci dengan 10 lantai atau tingkat. Hal ini secara tidak langsung menyebutkan tentang bangunan suci, Borobudur.

Prasasti Tri Tepusan menjelaskan tentang Sri Kahulunan yang diyakini sebagai Pramodawardhani, putri dari Samaratungga yang disebutkan secara samar-samar dalam prasasti Karang Tengah. Dalam prasasti ini disebutkan Pramodawardhani memiliki gelar Sri Kahulunan, sesuai dengan pendapat menurut Soekmono, Poesponegoro dan Notosusanto.

Prasasti Tri Tepusan berisi apresiasi dan penyebutan desa Tri i Tpusan sebagai sima atau wilayah atas nama suatu tempat yang bernama Kamulan di Bhumisambhara. Dalam prasasti ini juga menyebutkan perintah dari Sri Kahulunan untuk menentukan batas-batas tanah yang menjadi sima.


Stupa-stupa teras Arupadhatu
Stupa utama terbesar, terletak ditengah, dikelilingi oleh tiga barisan melingkar 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha dengan sikap tangan memutar roda dharma. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Jelajah Asal Nama Borobudur

Bangunan-bangunan yang berasal dari masa kuno dalam sejarah Indonesia biasanya disebut dengan candi, apapun tujuan aslinya dari pembuatan itu. Bangunan-bangunan tersebut tidak hanya mencakup pada bangunan candi, akan tetapi juga benda-benda seperti pintu gerbang dan tempat pemandian / petirtaan. Dalam sebagian besar penjelasan tentang candi, nama aslinya tidak banyak diketahui. Seringkali orang-orang dari desa terdekat bahkan tidak mengetahui keberadaannya dan sebagian besar warisan budaya ini harus ditemukan kembali. Tak heran jika candi-candi hanya disebut sebagai asal usul nama desa terdekat. Namun, beberapa diantaranya masih tetap mempertahankan nama-nama mereka. Sehingga dalam kasus seperti itu, desa tersebut dinamai candi. Sangat sulit sebenarnya untuk mengetahui apakah Candi Borobudur disebut dengan nama desa sebaliknya.

Dalam mempelajari asal nama Candi Borobudur, menyebutkan kronik Jawa pada abad kedelapan belas, tentang adanya suatu bukit besar bernama Borobudur. Sehingga dalam hal ini, Sir Thomas Stamford Raffles (penemu Borobudur), menceritakan pada tahun 1814 tentang keberadaan bangunan yang disebut Borobudur berada di dekat desa Bumisegoro. Oleh karena itu, Borobudur sepertinya adalah nama aslinya. Namun tidak dapat ditemukan dokumen kuno yang memuat nama ini.

Salah satu manuskrip Jawa Kuno tahun 1365 M, naskah Nagarakrtagama yang disusun oleh Mpu Prapancha, menyebutkan nama 'Budur', adalah sebagai tempat suci Budha aliran / sekte Vajradhara. Hal ini bukanlah tidak mungkin, bahwa nama 'Budur' ini, dikaitkan dengan Borobudur, namun kurangnya informasi lebih lanjut membuat identifikasi pasti sulit dilakukan. Salah satu desa di dekatnya masih menggunakan nama 'Bore', kemungkinan masih mempertahankan bagian pertama dari nama asli bangunan tersebut.

Nama kata 'Boro-Budur', masih sulit untuk dijelaskan. Namanya dianggap sebagai arti dari 'tempat suci Budur di desa Boro', sehingga ini bertentangan dengan aturan dalam bahasa Jawa, yang mengharuskan kata-katanya berbeda yaitu "Budur Boro", bukan "Boro Budur". Menurut penjelasan Raffles, berpendapat bahwa 'Budur' mungkin berhubungan dengan kata tersebut, yaitu kata Jawa modern 'Buda' artinya kuno, maka Borobudur dengan demikian berarti 'Boro Kuno'. Ia juga mengajukan hipotesis lain, yaitu nama Boro berarti 'agung', dan Budur berarti 'Budha', menurut namanya bangunan tersebut dinamai dengan nama "Budha Agung". Sebenarnya, 'boro' seharusnya berarti 'yang terhormat', yang berasal dari kata 'bhara' dalam bahasa Jawa Kuno, sebuah awalan kehormatan, jadi diartikan 'tempat suci Budha yang terhormat' akan lebih tepat. Namun, 'boro' mungkin juga mewakili kata Jawa Kuno 'bhara', yang berarti 'banyak' (kata Jawa modern 'para', yang menunjukkan bentuk jamak), sehingga penafsiran dari nama 'Borobudur' merupakan sebagai suatu tempat suci 'Banyak Budha', sehingga nama ini memiliki klaim yang sama.

Keberatan utama terhadap beberapa interpretasi di atas adalah bahwa 'Boro Kuno', sebenarnya tidak relevan, dan 'Budha Besar', 'Budha Yang Mulia', dan 'Budha Banyak', juga tidak memberikan penjelasan rinci tentang perubahan dari 'Budha' menjadi 'Budur'. Pendapat-pendapat tersebut memang benar, akan tetapi bagaimanapun tidak ada cara untuk membenarkannya. Penafsiran yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Poerbatjaraka yang berasumsi bahwa kata 'boro' ialah singkatan dari 'biara' yang berarti 'biara' atau 'wihara'. Borobudur kemudian berarti 'Vihara Budur'. Dalam penelitian pondasi biara memang dilakukan selama penggalian arkeologi yang berada di dataran tinggi sebelah barat bangunan pada tahun 1952. Karena keberadaan nama 'Budur' disebutkan dalam Nagarakrtagama, penafsiran Poerbatjaraka kemungkinan benar. Akan tetapi jika demikian, bagaimana vihara bisa berdiri sebagai nama suatu bangunan dalam benak masyarakat.

Semua penjelasan tentang asal nama Borobudur di atas lebih didasarkan pada penafsiran dari kata penyusun 'Boro' dan 'Budur'. De Casparis kemudian mencoba menelusuri kedua kata tersebut kembali ke asal usulnya, dengan mengambil contoh pada nama 'Bhumisambharabhudhara'. Kata yang berarti tempat suci pemujaan leluhur, ditemukan pada dua prasasti batu yang berasal dari tahun 842 Masehi. Setelah dilakukan analisis menyeluruh pada aspek keagamaan dan rekonstruksi secara rinci letak geografi wilayah tempat terjadinya peristiwa sejarah, menyimpulkan bahwa tempat suci Bhumisambhlrabhtidhara tidak lain merupakan Borobudur, dan perubahan dari penyebutan nama saat ini terjadi melalui penyederhanaan kata yang biasa terjadi dalam bahasa lisan.

Meskipun banyak sejarawan menolak penjelasan De Casparis, sejauh ini belum ada solusi yang lebih masuk akal yang diajukan. Moens mengemukakan, dengan penjelasan analogi Bharasiva India Selatan, berarti menunjukkan pengikut setia Dewa Hindu Siva, sehingga Borobudur lebih diasosiasikan dengan nama 'Bharabuddha' atau penegak Budha yang bersemangat. Nama 'Borobudur' disebut merupakan singkatan dari 'Bharabuddha' dengan tambahan bahasa Tamil, kata 'ur' untuk 'kota', sehingga berarti 'Kota Penegak Budha'. Namun, nama 'Bharabuddha' hanyalah suatu rekonstruksi hipotetis, tanpa dukungan atau bukti dokumen, dan teori Moens masih belum dapat diterima secara umum.

Undakan tangga naik Borobudur
Tangga naik, pintu masuk melalui gapura dengan dekorasi Kala Makara. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Penemuan Kembali Candi Borobudur

Belum diketahui secara pasti dan tidak ditemukan dokumen tentang berapa lama Candi Borobudur digunakan, atau sejak kapan bangunan ini tidak lagi difungsikan sebagai tempat untuk mengagungkan kebesaran dari dinasti / wangsa kerajaan yang pernah berkuasa dan sekaligus sebagai pusat ziarah penganut agama Budha.

Asumsi umum adalah bahwa candi Borobudur tidak lagi digunakan ketika masyarakat mulai masuk Islam pada abad kelima belas. Namun sangat masuk akal jika candi-candi di Jawa Tengah ditinggalkan pada awal abad ke-10 ketika kepentingan sejarah mulai beralih ke Jawa Timur. Jika demikian, Candi Borobudur telah dibiarkan nasibnya beberapa abad lebih awal dari candi di Jawa Timur. Terlepas dari kapan tepatnya candi telah kehilangan maknanya dalam masyarakat yang terus berubah, candi harus ditemukan kembali satu per satu sebelum pengetahuan kita saat ini tentang candi mulai terakumulasi. Akan tetapi candi-candi tidak pernah hilang sepenuhnya dari ingatan masyarakat.

Awal Penemuan Borobudur

Dalam beberapa hal, masa lalu yang mengesankan dan keberadaan candi-candi yang menjadi saksinya selalu dikenang, terutama oleh penduduk desa yang masih tinggal di dekatnya. Bangunan suci masih sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Perubahan keyakinan secara alami akan menyebabkan suatu perubahan bertahap dalam sikap mereka terhadap bangunan itu, sebagaimana dibuktikan dengan cara masyarakat mengabaikan keberadaannya.

Namun, ketidakpedulian ini bukanlah penjelasan utama. Kepercayaan tentang takhayul secara bertahap mengaitkan reruntuhan yang tidak jelas itu dengan nasib buruk dan kemalangan. Menurut Babad Tanah Jawi (Sejarah Pulau Jawa), konon suatu musibah menimpa akibat pertempuran raja Mataram pada tahun 1709 Masehi. Menurut Babad Mataram (Sejarah Kerajaan Mataram) hal serupa terjadi pada tahun 1757, meskipun ada larangan yang berlaku terkait untuk mengunjungi Candi Borobudur, yang dikaitkan dengan misteri dan takhayul. Kemudian pada tahun 1814, Borobudur mulai dikenal secara harfiah maupun kiasan, dari masa lalunya yang kelam.

Kurun waktu antara tahun 1811 dan 1816, Letnan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles sangat tertarik dengan seni budaya Jawa dan benda-benda antik masa lalu. Pada tahun 1814, saat melakukan perjalanan inspeksi di Semarang, diberitahukan adanya suatu bangunan besar bernama Borobudur, berada di desa Bumisegoro dekat Magelang. Karena berhalangan hadir dan mengutus Cornelius, seorang perwira insinyur Belanda yang telah berpengalaman dalam menjelajahi benda-benda antik di Jawa, untuk menyelidikinya. Saat itu Cornelius mempekerjakan penduduk sekitarnya untuk melakukan pembersihan dengan menebang pohon, membakar semak-semak, dan menggali tanah tempat dibangunnya bangunan yang telah lama terkubur. Dalam waktu dua bulan pengerjaannya sudah selesai, meski banyak bagian dinding galeri yang tidak dapat digali karena terancam roboh dan runtuh. Dalam penyelidikan bangunan, laporannya dilengkapi dengan berbagai sketsa gambar.

Dua jilid History of Java yang pernah diterbitkan pada tahun 1817 hanya berisi tentang beberapa kalimat untuk bangunan tersebut. Penjelasan tentang barang antik sangat singkat, karena bermaksud akan menerbitkan secara terpisah, yaitu 'Catatan Barang Antik Jawa'. Walaupun ini sebenarnya tidak pernah muncul. Meski demikian, Raffles tetap sangat bersyukur karena telah menyelamatkan dan menemukan Candi Borobudur dari keterpurukan, dan telah membuatnya dikenal oleh banyak orang.

Pejabat Belanda di wilayah Kedu, Hartmann, merupakan salah satu yang berwewenang dan menaruh perhatian khusus pada Candi Borobudur dengan mengatur pemindahan lebih lanjut puing-puing dan pembersihan galeri, sehingga, pada tahun 1835, seluruh bangunan terbebas dari kerusakan. Akan tetapi Hartmann tidak menulis laporan tentang aktivitasnya, sehingga apa yang diketahui tentang aktivitas tersebut hanya dapat diperoleh dari laporan selanjutnya. Terdapat cerita dugaan ditemukannya arca Budha di dalam stupa terbesar menimbulkan perdebatan yang belum selesai.

Pada tahun 1842 Hartmann melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap bagian dalam stupa utama terbesar. Namun yang sebenarnya tidak dapat diketahui tentang menyebutkan arca Budha seukuran salah satu dari ratusan patung Borobudur lainnya. Tidak ada informasi yang pernah disebutkan oleh para penyelidik sebelum tahun 1842. Cerita beredar bahwa Hartmann lebih tertarik pada Candi Borobudur secara pribadi daripada sebagai pejabat pemerintah. Akan tetapi menyebutkan bahwa Wilsen adalah seorang perwira insinyur yang diutus secara resmi oleh Pemerintah untuk membuat gambar detail arsitektur dan relief yang ada pada Candi Borobudur.

Sementara itu Pemerintah menunjuk Brumund untuk membuat uraian rinci yang diselesaikannya pada tahun 1856. Brumund mengira penelitiannya akan dipublikasikan dan dilengkapi dengan gambar dari hasil penelitian Wilsen. Pemerintah bermaksud agar publikasi resmi didasarkan pada artikel dan gambar sketsa Wilsen, dengan hasil studi Brumund sebagai pelengkap. Pemerintah kemudian harus menunjuk seorang ahli yang lain dan memilih Leemans yang sebelumnya pada tahun 1859, diminta untuk menggunakan manuskrip Wilsen dan Brumund, dan membuat monografi yang disertai dengan gambar hasil penelitian Wilsen. Pada akhirnya monografi tersebut terbit di media cetak pada tahun 1873, dan diikuti dengan terjemahan dalam bahasa Prancis pada tahun 1874, semua materi tentang Borobudur tersedia untuk umum. Dokumentasi diberikan pada setiap detail bangunan, dan Candi Borobudur kini tidak akan pernah terlupakan lagi.

Pemugaran Borobudur

Bangunan Candi Borobudur secara dimensional merupakan bangunan bertingkat, berbentuk bujur sangkar dengan ukuran seluruhnya mencapai sekitar 123 x 123 meter. Tingginya berada sekitar 42 meter yang terhitung sampai bagian atas puncak Chattra. Tanpa chattra, tinggi Candi Borobudur diperkirakan 31 meter. Bangunannya terdiri dari 10 tingkatan, enam tingkat di bawah berbentuk bujur sangkar dengan ukuran makin kecil keatas. Pada tiga tingkat atas berdenah hampir bulat/lingkaran, dan tingkat paling atas berupa stupa besar. Adapun di bagian kakinya masih dapat ditemukan relief cerita Karmawibhangga yang dahulu pernah ditutup.

Borobudur merupakan bangunan yang berbentuk stupa, memiliki struktur teras berundak. Warisan budaya ini dibangun dan tersusun dari batu andesit yang disambung kuat dengan teknik pasak, bentuk pengunci batu "ekor burung". Ranah spiritual menurut W.F. Stutterheim, tingkatan Candi Borobudur dapat dibagi menjadi tiga bagian sebagaimana konsep dhatu, yaitu tahapan yang harus dilalui untuk mencapai ke-Buddha-an.

Borobudur kembali menarik perhatian pada tahun 1885, dalam penelitian oleh Yzerman, Ketua Masyarakat Arkeologi di Yogyakarta, ketika menemukan kaki tersembunyi, bagian bawah kaki candi yang sekarang dibuka sebagian pada sisi tenggara. Dokumentasi Foto-foto yang menampilkan relief pada kaki tersembunyi dibuat pada kurun 1890–1891. Penemuan ini telah mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk segera mengambil langkah menjaga kelestarian bangunan ini. Pada tahun 1900, pemerintah membentuk komisi yang terdiri atas tiga pejabat untuk meneliti Borobudur dengan anggota: Brandes, seorang sejarawan seni, Theodoor van Erp, seorang insinyur yang juga anggota tentara Belanda, dan Van de Kamer, insinyur ahli konstruksi bangunan dari Departemen Pekerjaan Umum. 

Kemudian pada tahun 1902, komisi ini mengajukan proposal tiga langkah dalam rencana pelestarian Borobudur kepada pemerintah. Pertama, bahaya yang mendesak harus segera diatasi dengan mengatur kembali sudut-sudut bangunan, memindahkan batu yang membahayakan batu-batu lain yang berada disebelahnya, memperkuat pagar langkan pertama, dan memugar beberapa relung, gerbang, stupa dan stupa utama. Kedua, memagari bagian halaman candi, memelihara dan memperbaiki sistem drainase dengan memperbaiki lantai dan pancuran. Ketiga, semua batuan lepas dan longgar harus dipindahkan, bangunan ini dibersihkan hingga pagar langkan pertama, batu yang rusak dipindahkan dan stupa utama dipugar. Total biaya yang diperlukan pada saat itu ditaksir sekitar 48.800 Gulden.

Pemugaran dilakukan pada kurun waktu antara tahun 1907 dan 1911, menggunakan prinsip anastilosis dan dipimpin oleh Theodor van Erp. Pada tujuh bulan pertama di habiskan untuk menggali tanah di sekitar bangunan untuk menemukan kemungkinan arca kepala budha yang hilang dan panel-panel batu. Dalam pemugaran Van Erp membongkar dan membangun kembali tiga teras melingkar dan stupa yang berada di bagian puncak.

Pada saat ditemukan, keadaan Candi Borobudur sangat memprihatinkan. Oleh sebab itu, Van Erp memugar bagian candi pada tingkat teras atas berbentuk lingkaran pada tahun 1907. Dilakukan penyusunan dan menata kembali stupa-stupa dan pada akhirnya pemugaran selesai tahun 1911.

Dalam prosesnya Van Erp menemukan banyak hal yang dapat diperbaiki, sehingga mengajukan proposal lain yang kemudian disetujui dengan biaya tambahan sebesar 34.600 gulden. Van Erp melakukan rekonstruksi lebih lanjut, dengan teliti bagian atas yaitu chattra (payung batu susun tiga) yang memahkotai puncak Borobudur. Pada pandangan pertama, Borobudur telah pulih seperti pada masa kejayaannya. Akan tetapi dalam rekonstruksi bagian puncak, chattra dianggap tidak dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, Sehingga Van Erp membongkar sendiri bagian chattra. Akibat anggaran yang terbatas, perhatian dalam pemugaran ini hanya memusatkan pembersihan pada patung dan batu, Van Erp tidak memecahkan masalah drainase dan tata air. Dalam waktu 15 tahun, dinding miring dan galeri relief menunjukkan retakan dan kerusakan yang serius. Van Erp menggunakan bahan material beton yang menyebabkan terbentuknya kristal garam alkali dan kalsium hidroksida yang menyebar ke seluruh bagian bangunan dan merusak batu candi. Hal ini menyebabkan masalah sehingga renovasi dan pemugaran lebih lanjut sangat diperlukan.

Keadaan Borobudur kembali mengalami kerusakan karena proses alam. Bagian-bagian lain di candi yang belum sempat tertangani oleh pemugaran di masa van Erp, melesak dan dindingnya miring. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia, UNESCO dan lembaga lain menginisiasi untuk pemugaran.

Pemugaran skala kecil dan terbatas pernah dilakukan sejak itu, akan tetapi tidak cukup memberikan perlindungan yang utuh pada Borobudur. Pada akhir tahun 1960, Pemerintah Indonesia telah mengajukan permintaan kepada dunia internasional untuk melaksanakan pemugaran dalam skala besar demi melindungi kelestarian bangunan ini. 

Proyek pemugaran Borobudur pada tahun 1973, merupakan rencana induk dalam langkah penyelamatan untuk memulihkan bangunan ini yang dibuat dengan kerjasama dunia. Pemerintah Indonesia dan UNESCO mengambil langkah untuk perbaikan menyeluruh monumen ini dalam suatu proyek besar antara tahun 1975 dan 1982. 

Pemugaran menyeluruh pada bagian pondasi yang diperkukuh dan seluruh galeri 1.460 panel relief dibersihkan. Pemugaran ini dilakukan dengan membongkar seluruh lima teras bujur sangkar dan memperbaiki sistem drainase dengan menanamkan saluran air serta penambahan lapisan saringan kedap air kedalam struktur bangunan. Penanaman beton bertulang dan pipa PVC, sebagai sistem drainase pada pemugaran tahun 1973, merupakan proyek restorasi yang paling utama untuk mengatasi genangan air pada bangunan candi.

Proyek pemugaran kedua ini dipimpin oleh Prof. Dr. R. Soekmono dan dibantu oleh Ir. Rooseno untuk bagian segi konstruksi. Pemugaran dilaksanakan antara tahun 1973 - 1983. Peresmian dilakukan pada 23 Februari 1983 oleh Presiden Soeharto.

Proyek pemugaran kolosal Borobudur melibatkan sekitar 600 tenaga ahli, untuk memulihkan bangunan, serta menghabiskan biaya total sebesar 6.901.243 dollar AS. Setelah renovasi, peran penting UNESCO memasukkan Candi Borobudur ke dalam daftar Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.

Penyelamatan Borobudur

Candi Borobudur telah terdaftar sebagai warisan budaya dunia, situs bersejarah ini bukanlah hanya sekedar status, akan tetapi keberadaannya lebih jauh membawa konsekuensi dalam pengelolaan yang lebih baik dimasa depan. Menyandang status sebagai warisan dunia menjadikan kelestarian Borobudur menjadi perhatian seluruh dunia. Salah satu upaya untuk pelestarian adalah dengan konservasi.

Pelestarian Candi Borobudur dilakukan melalui berbagai cara, meliputi seperti konservasi bangunan, pengelolaan pengunjung, peningkatan kesadaran masyarakat, dan pengawasan ketat. Konservasi secara rutin, termasuk pada pembersihan dan perbaikan, sangat penting untuk menjaga keutuhan struktur bangunan. Selain itu, melalui pengelolaan untuk pengunjung yang bijaksana, edukasi tentang nilai sejarah dan kebudayaan, serta pengawasan ketat terhadap perilaku pengunjung juga menjadi bagian penting dari upaya dalam pelestarian bangunan.

Konservasi bangunan Candi Borobudur sebenarnya telah dimulai sejak awal, bangunan ditemukan dengan kegiatan pembersihan dan pemugaran oleh Pemerintah Hindia - Belanda, tepatnya pada tahun 1907 - 1911. Keberadaan Candi Borobudur di alam terbuka dan dibangun di atas bukit sangat rentan terpengaruh oleh faktor lingkungan sekitarnya. Faktor cuaca dan iklim merupakan faktor alam yang dominan berpengaruh dan dapat menyebabkan kerusakan dan pelapukan terhadap batuan candi. Hal ini bisa menjadi ancaman bagi keberadaan dan kelestarian Candi Borobudur. Selain faktor alam, pengaruh pengunjung dan pemanfaatan lainnya, menyebabkan dampak kerusakan pada bangunan cagar budaya tidak dapat tergantikan.

UNESCO mengidentifikasi dalam tiga permasalahan penting sebagai upaya pelestarian Candi Borobudur, yaitu; vandalisme atau pengrusakan yang dilakukan oleh pengunjung dan erosi tanah pada bagian tenggara bangunan, serta analisis dan pengembalian bagian-bagian yang telah hilang.

Tanah yang gembur, beberapa kali gempa bumi, dan hujan lebat dapat menggoyahkan struktur bangunan ini. Gempa bumi adalah faktor yang paling parah, karena tidak saja batuan dapat jatuh dan pelengkung ambruk, tanah sendiri bergerak bergelombang yang dapat merusak struktur bangunan. 

Meningkatnya popularitas stupa, telah menarik banyak pengunjung yang kebanyakan adalah pengunjung lokal. Meskipun terdapat banyak papan peringatan untuk tidak menyentuh apapun, pengumandangan peringatan melalui pengeras suara dan adanya penjaga, masih terdapat vandalisme seperti pengrusakan dan pencorat-coretan batu seperti pada relief dan arca sering terjadi, hal ini jelas akan merusak bangunan ini. 

Pada 27 Mei 2006, telah terjadi gempa dengan kekuatan 6,2 skala rikhter mengguncang pesisir pantai selatan Jawa Tengah. Bencana alam ini telah menghancurkan kawasan Yogyakarta dan sekitarnya, akan tetapi tidak banyak berpengaruh pada Borobudur. Pada 28 Agustus 2006, dilaksanakan simposium yang bertajuk "Trail of Civilizations" (jejak peradaban), digelar di Borobudur atas prakarsa Gubernur Jawa Tengah dan Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan, juga hadir perwakilan dari UNESCO dan negara-negara mayoritas agama Budha yang ada di Asia Tenggara, seperti Thailand, Myanmar, Laos, Vietnam, dan Kamboja.

Borobudur sangat terdampak letusan Gunung Merapi pada Oktober dan November 2010. Debu vulkanik dari Merapi menutupi kompleks candi yang berjarak 28 kilometer arah barat-barat daya dari kawah Merapi. Lapisan debu vulkanik mencapai ketebalan sekitar 25 sentimeter, telah menutupi bangunan pada letusan 3 – 5 November 2010, yang berdampak juga pada tanaman di sekitarnya, sehingga banyak para ahli mengkhawatirkan debu vulkanik yang secara kimia bersifat asam dapat merusak batuan bangunan bersejarah ini. Kompleks area ditutup 5 sampai 9 November 2010 untuk melakukan pembersihan debu.

Mencermati upaya dalam rehabilitasi Borobudur setelah letusan Merapi 2010, UNESCO berupaya menyumbangkan dana sebesar 3 juta dollar AS untuk mendanai kegiatan dalam rehabilitasi. Membersihkan bangunan dari endapan debu vulkanik akan membutuhkan waktu sedikitnya 6 bulan, kemudian disusul dengan penghijauan kembali dan penanaman pohon di lingkungan sekitar untuk menstabilkan suhu, dan peran terakhir menghidupkan kembali kehidupan sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat. 

Lebih dari 55.000 blok batu candi harus dibongkar untuk memperbaiki sistem tata air dan drainase yang tersumbat adonan debu vulkanik bercampur air hujan. Restorasi berakhir November 2011, lebih awal dari perkiraan semula.

Chandi Borobudur
Terdiri atas enam teras bujur sangkar, diatasnya tiga pelataran melingkar, dindingnya dihiasi oleh 2.672 panel relief dan terdapat 504 arca Budha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Catatan Asal Nama Borobudur
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan kuno disebut candi. Istilah candi juga banyak digunakan untuk menyebut semua bangunan kuno yang berasal dari zaman Hindu-Buddha di nusantara, seperti gapura dan karettaan (kolam dan pancuran).

Asal usul nama Borobudur tidak jelas, meskipun nama asli sebagian besar candi di Indonesia tidak diketahui. Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku 'Sejarah Pulau Jawa' karya Sir Thomas Raffles. Raffles menulis tentang sebuah monumen bernama Borobudur, namun tidak ada dokumen lama yang menyebutkan nama yang sama persis. Satu-satunya teks Jawa kuno yang memberikan petunjuk tentang keberadaan bangunan suci Budha yang mungkin merujuk pada Borobudur adalah Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365.

Nama Borobudur berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata “bara” berasal dari kata “vihara”, dalam bahasa Sansekerta berarti “kuil”. Kata "beduhur" berarti "tinggi", dalam bahasa Bali.

Nama Bore-Budur yang kemudian ditulis BoroBudur kemungkinan besar ditulis oleh Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut desa yang paling dekat dengan candi yaitu desa Bore (Boro), sebagian besar candi sering diberi nama sesuai desa tempat candi tersebut berada. berdiri. Raffles juga menduga istilah 'Budur' mungkin ada kaitannya dengan istilah Jawa Buda yang berarti "kuno" – karenanya disebut "Boro kuno".

Namun, para arkeolog lain berpendapat bahwa nama Budur berasal dari istilah bhudhara yang berarti gunung. Banyak teori yang mencoba menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan besar berasal dari kata Sambharabhudhara yang berarti "gunung" (bhudara) yang di lerengnya terdapat berundak-undak. Selain itu masih ada beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalnya kata borobudur berasal dari kata “Buddha” yang karena adanya pergeseran bunyi menjadi borobudur.

Penjelasan lainnya adalah nama ini berasal dari dua kata “bara” dan “beduhur”. Kata bara konon berasal dari kata vihara, adapun penjelasan lain dimana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kompleks pura atau vihara dan beduhur berarti "tinggi", atau mengingatkan bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi yang dimaksud adalah vihara atau asrama yang letaknya di dataran tinggi.

Sejarawan J.G.de Casparis dalam disertasinya untuk meraih gelar doktor pada tahun 1950 mengemukakan bahwa Borobudur adalah tempat ibadah. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur adalah raja Mataram dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar tahun 824 Masehi. Bangunan tersebut selesai dibangun pada masa putrinya yaitu Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan telah membutuhkan waktu setengah abad.

Prasasti Karangtengah juga menyebutkan pemberian tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Sri Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamulan, sebuah bangunan suci yang disebut Bhumisambhara. Istilah Kamulan berasal dari kata mula yang berarti tempat asal, bangunan suci untuk memuliakan leluhur, kemungkinan nenek moyang dinasti Sailendra. Casparis memperkirakan Bhumi Sambhara Bhudhara dalam bahasa Sansekerta yang berarti "Bukit kumpulan kebajikan sepuluh tingkat boddhisattva" adalah nama asli Borobudur.

Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Membaca lebih banyak tentang Borobudur dalam beberapa judul dan jadikan wisata Anda menyenangkan dan menarik. Mendapatkan lebih banyak narasi dan materi tentang Chandi Borobudur dalam bahasa inggris yang menyenangkan dan juga terkesan begitu menarik untuk diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dan luwes, mendapatkan bacaan dengan detail dalam judul Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture.
Menjelajahi, mengagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto dengan mengetik tautan detail dalam PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Comments